Hari ini sembilan tahun yang lalu…………
August 15, 2009 by utibrata
Masih terbayang jelas di pikiran saya apa yang saya rasakan dan alami sembilan tahun lalu. Seperti pasangan lain yang baru menikah, kami berdua sudah sangat ingin dikaruniai keturunan apalagi kami menikah bukan dalam usia yang muda lagi. Masa-masa menjelang jadwal menstruasi adalah masa-masa yang mendebarkan. Tiap bulan saya berharap saya terlambat dan positif hamil. Sudah lebih dari lima kali saya membeli test pack karena menstuasi saya terlambat tapi berkali-kali pula saya kecewa karena ternyata hasilnya negatif.
Pada bulan ketujuh pernikahan kami, kami konsultasi ke dokter kandungan dan mengeluh bahwa kami belum juga diberi keturunan. Sang dokter bertanya, memang sudah berapa lama menikah? Saya jawab sudah tujuh bulan Dok, tapi sampai saat ini saya belum hamil juga. Eeh si dokter malah ‘memarahi’ saya..”Mbak.. itu BARU tujuh bulan bukan SUDAH tujuh bulan. Banyak pasangan yang sudah menikah tujuh tahun belum juga diberi keturunan. Mbak dan Mas sehat kok ga ada kelainan jadi memang belum waktunya diberi keturunan oleh Allah.
Sejak itu saya dan suami saya tidak terlalu ‘obsesi’ punya anak. Menstruasi dari bulan ke bulan saya hadapi dengan tenang. Sampai pada suatu saat saya merasa tidak enak badan dan saat periksa ke dokter, sang dokter bilang.. ah ini bukan sakit Bu, tapi mungkin Ibu hamil. Tapi saya tidak percaya karena sepertinya saya baru saja menstruasi..
Beberapa hari kemudian tiba-tiba saya kepingin sekali makan bebek goreng. Dalam perjalanan pulang dari kantor di Lapangan Banteng sampai rumah kami di Depok Lama, kami selalu berhenti di setiap warung bebek goreng di sepanjang jalan. Tapi tiap kali kita berhenti pasti bebek gorengnya habis. Dari mulai kita parkir mobil dengan baik dan benar sampai akhirnya saya disuruh turun dan tanya dulu ke penjualnya apakah ada bebek goreng. Akhirnya sampai di dekat rumahpun tak ada satupun warung bebek goreng yang punya persediaan bebek goreng dan malam itu berakhir dengan makan mie goreng instant (karena saya sudah males masak dan waktu itu kita hanya berdua di rumah).
Besoknya saya makin tidak enak badan dan akhirnya tidak masuk kantor. Siang hari tiba-tiba saya kepingin makan tart coklat yang ada di Hotel Borobudur dan saya telpon sang suami untuk membelikan tart coklat itu tapi dia bilang.. “Ah nanti aja Ti kalau kamu dah masuk kantor kan gampang tuh ke Hotel Borobudur, tinggal nyebrang jalan aja. Jadi kamu bisa beli sendiri aja nanti pas kamu dah sembuh” Ya sudah besok nya setelah saya agak enakan, saya beli tart coklat itu beberapa potong dan sampai di rumah ternyata tidak saya makan malah dimasukkan ke lemari es sampai berminggu-minggu.
Kantor saya waktu itu berencana untuk mengadakan senam di kantor dan saat itu salah satu teman saya bilang ke saya, “Ti, biasanya kan jadwal mens saya sama kamu sama kan? Tapi kok kayaknya bulan ini kamu belum mens ya.. padahal saya udah mens beberapa minggu lalu.. Jangan-jangan kamu hamil lho Ti.. hayoo test sana, karena kita mau ngadain senam di kantor”
Hmmmm saya langsung berpikir.. iya juga ya…bulan ini saya belum mens, Pulang kantor kami mampir ke apotik dan membeli test pack. Besok paginya sebelum shalat Subuh, saya test kehamilan dan karena sudah ‘pasrah’ test pack nya tidak dipelototin seperti bulan-bulan sebelumnya. Saya wudhu dulu baru ambil test pack itu lagi. Pas saya angkat, ternyata kok tandanya Positif. Saya tidak percaya… ah masa sih.. positif.. saya lihat sekali lagi dan memang benar tandanya positif. Langsung saya masuk ke kamar lagi dan membangunkan suami, seperti biasa dia masih belum ngeh kalau baru bangun tidur. Saya bilang.. “Yank… aku positif Yank” sambil bilang gitu tanpa terasa air mata saya mengalir.. Dia bingung.. “eh.. apa Ti? Apa yang positif?” Setelah beberapa detik baru dia sadar dan dia juga menangis karena benar-benar kami tidak menyangka. Kita berdua langsung sujud syukur. Sorenya untuk meyakinkan kami langsung pergi ke dokter kandungan dan ternyata memang benar saya sudah hamil dan janin nya sudah seukuran 2 centimeter. Begitu pulang dari dokter, langsung kami menelpon orang tua karena kami tidak tahan lagi untuk membagi berita bahagia ini.
Hmmm jadi kemarin itu yang kepengen bebek goreng dan tart coklat itu nyidam ya.. Untung saya tidak tahu kalau saya ngidam jadi tidak sakit hati karena tidak dapat bebek gorengnya dan harus menunggu sehari untuk bisa beli tart coklatnya. Yang lucu, yang nyidam justru suami saya. Pernah pada suatu saat kami berdua sedang ikut pelatihan di Paramadina, tiba-tiba dia keluar ruangan dan sekitar sepuluh menit kemudian baru masuk lagi ruangan dengan wajah yang sumringah. Saya tanya ke dia, “Dari mana yank?”. Dengan santainya dia bilang” Hmm abis makan mie ayam di luar. Abis kepingin banget”. Lain waktu dia memaksa kita semua (saya dan asisten di rumah) untuk makan seafood di depan kompleks. Alasan dia..” Ayo Ti.. kamu pasti mau seafood kan.. hayoo kita makan di warung depan kompleks itu” Saya sebenarnya malas keluar tapi dia tetap ngotot bahwa saya kepingin seafood. Dan akhirnya kita memang makan seafood dan setelah itu wajahnya kembali sumringah.
Masa-masa kehamilan itu adalah pengalaman yang sangat membahagiakan, tidak pernah ada morning sickness yang ada malah evening sickness, mungkin karena saya capek di kantor. Dan yang paling tidak bisa ditahan adalah rasa kantuk setelah makan siang. Jadi seringkali saya ketiduran di kantor dengan tangan masih di atas keyboard komputer hehehehe… Saya cuma sekali muntah selama hamil itupun karena saya makan ikan bakar di restaurant dan sepertinya ikan nya tidak terlalu fresh. Begitu sampai di rumah, semua makanan itu keluar lagi.. wuiiih rasanya ga enak banget muntah. Untung saya tidak kena morning sickness.
Kehamilan saya di bulan-bulan pertama berlangsung lancar tapi memasuki bulan ke empat, tekanan darah saya naik terus dan kaki bengkak padahal saya sudah diet keras tidak makan garam sama sekali. Bulan kelima kehamilan, saya harus bedrest 3 hari di RS karena tekanan darah saya sampa 150. Tapi alhamdulilah setelah itu bisa turun sedikit.
Saat yang paling membahagiakan selama kehamilan adalah ketika saya bisa ‘bermain-main’ dengan Raihan. Seperti calon ibu lainnya saya juga sering memperdengarkan musik klasik untuk Raihan. Dan setelah mendengar musik klasik, kalau saya sentuh perut saya, Raihan sering membalas ‘memukul’ saya. Memang ‘pukulan’ nya tidak sekeras ‘pukulan’ Abit di perut adik saya tapi saya sudah merasa senang bisa bermain-main dengan dia.
Pelajaran berharga lainnya yang saya dapat selama kehamilan adalah saya dilatih untuk bersabar. Saya adalah orang yang selalu ingin tahu hasil akhirnya seperti apa dan saya bisa mengontrol segala situasi. Tapi selama kehamilan, saya tidak bisa tahu bagaimana sebenarnya keadaan bayi di kandungan saya sebenarnya. Seperti apa rupanya, apa jenis kelaminnya, apa dia mirip saya atau mirip suami saya, apakah dia sehat dan sebagainya. Saya benar-benar diuji kesabarannya untuk menunggu sampai waktunya, baru saya bisa tahu seperti apa hasilnya.
Saat lain yang menggembirakan adalah pada saat USG, pas di USG ternyata Raihan beraksi, gayanya pada saat di USG adalah seperti orang yang bersantai di pinggir pantai dengan kedua tangan ada di belakang kepalanya. Sudah seperti boss besar aja gayanya. Sayang waktu itu USG nya tidak diprint.
Akhirnya kandungan saya masuk bulan ketujuh dan kedua orang tua kami sudah mulai heboh mempersiapkan kelahiran, Ibu saya sudah ‘memaksa’ untuk membeli keperluan bayi seperti popok dan sebagainya, sedangkan ibu mertua sudah mulai menyuruh menyiapkan box bayi. Tapi anehnya saya sama sekali tidak antusias membeli perlengkapan itu. Saya malah lebih antusias mencari nama untuk bayi saya. Setelah mencari-cari akhirnya pilihan saya adalah Raihan, salah satu kata yang ada di surat Ar Rahman yang berarti wangi-wangian surga. Kemudian kami minta masukan kepada kedua orang tua kami nama apa yang mau mereka berikan kepada anak kami. Ibu saya memberi nama Iman, karena kata Ibu, waktu Ibu hamil saya dan memperkirakan bayinya laki-laki, Ibu sudah menyiapkan nama Iman, tapi ternyata yang lahir bayi perempuan. Sedangkan Ibu mertua memberi nama Nugraha yang artinya Anugrah. Akhinya kami sepakat untuk memberi nama Raihan Iman Nugraha.
Tanggal 15 Agustus saya periksa ke dokter seperti biasa, tapi ternyata kali ini tekanan darah saya mencapai 170 dan dokter menyuruh saya bedrest beberapa hari di RS. Instruksi dokter tersebut saya lakukan, malam itu saya tidak pulang ke rumah tapi menginap di RS. Kebetulan tanggal 16 Agustus, Ibu mertua sudah menyiapkan acara tujuh bulanan di rumahnya. Dan karena pengalaman saya pada bedrest sebelumnya maka malam itu saya menyuruh suami pulang ke rumah Ibunya untuk membantu mempersiapkan acara tujuh bulanan besok harinya. Jadi malam itu saya menginap sendirian di RSPI.
Sekitar jam 11 malam, suster memeriksa kandungan saya, semua baik-baik saja, detak jantung masih kuat dan tidak ada keluhan sama sekali. Sekitar jam 1 pagi saya mules luar biasa, dan beberapa kali ke kamar mandi tapi tidak ada yang keluar. Setelah itu saya muntah tapi tidak banyak dan saya kembali tidur. Sekitar jam 3 pagi, saya terbangun dan merasa ada yang aneh, begitu saya check ternyata ada bercak darah di celana saya. Saya langsung memanggil suster, dan pada saat itu saya berdoa kepada Allah, “ Ya Allah berilah yang terbaik untuk saya dan anak saya. Kalau memang Engkau menghendaki dia pergi, saya ikhlas ya Allah. Berilah kekuatan kepada saya. Tidak ada kekuatan selain dariMu ya Allah” Setelah berdoa, saya merasa lebih tenang. Suster langsung datang dan begitu melihat saya pendarahan, dia langsung memasang alat untuk mencari detak jantung bayi. Setelah dicoba lebih dari satu jam, suster tidak berhasil menemukan detak jantung dan akhirnya dia bilang ke sana “Bu, kita sudah coba mencari detak jantung anak Ibu, tapi sepertinya tidak ada detak jantung lagi Bu. Anak Ibu sudah meninggal”. Saya tidak langsung menelpon suami saat itu karena masih jam 4 pagi dan saya takut membuat dia panik. Akhirnya setelah Subuh, saya menelpon dan hanya memberi tahu kalau saya pendarahan.
Setelah suami sampai di rumah sakit, baru saya beritahu kalau anak kami sudah tidak ada. Reaksi suami sama seperti saya, dia bilang “Ti, ini yang terbaik yang diberikan Allah untuk kita. Ikhlas kan ya”. Dia hanya duduk di samping tempat tidur menempelkan kepala di kasur sambil memegang tangan saya dan menunggu dokter datang. Setelah dokter datang baru kami memberi tahu keluarga. Semua kaget terlebih Ibu mertua saya karena beliau sedang sibuk memasak untuk acara Tujuh Bulanan pagi itu. Akhirnya sekitar jam 7 pagi saya dioperasi Caesar karena ternyata saya pendarahan dalam dan kondisi saya saat itu juga kritis karena pendarahan saya sudah sekitar 2.5 liter. Anehnya saya sama sekali tidak merasakan apa-apa. Ketika bayi sudah berhasil dikeluarkan, dokter menanyakan apakah saya mau melihat wajah anak saya, tapi saya menolak dan saya hanya memastikan bahwa anak saya laki-laki. Setelah itu bayi saya dibawa keluar dan diserahkan kepada keluarga dan saya tertidur karena dibius. Raihan mukanya mirip sekali dengan saya (dan juga Bapak saya karena saya mirip Bapak) dengan rambut yang tebal, tetapi suami saya dengan bangganya berkata… “ga apa-apa mukanya mirip kamu Ti, tapi ‘itunya’ mirip aku”…. (ya iyalah.. karena Raihan kan cowo….)
Ketika saya terbangun, saya sudah di ruang recovery dan keluarga sudah menunggu semua. Raihan sudah dimandikan dan sudah dibawa ke rumah mertua saya untuk dishalatkan dan kemudian dikuburkan. Ada kejadian lucu di rumah mertua saya, karena ada bendera kuning di depan rumah mertua, maka tetanga-tetangga yang diundang untuk tujuh bulanan berkomentar, “Lucu ya orang Jawa, tujuh bulanan kok pake bendera kuning”. Dan mereka semua kaget karena ternyata acara tujuh bulanan yang direncanakan berubah menjadi acara pemakaman. Alhamdulillah kami tidak mendapat kesulitan memperoleh pemakaman karena hubungan baik mertua saya dengan aparat kelurahan. Raihan dimakamkan di Pemakaman Wakaf Kampung Utan yang hanya berjarak beberapa meter dari rumah yang kami tempati saat ini.
Esok harinya karena kebetulan hari libur, 17 Agustus, banyak sekali teman-teman dan saudara yang mengunjungi saya di rumah sakit. Sampai-sampai suster di RS bertanya-tanya, memang siapa sih di kamar itu kok banyak banget tamunya dan akhirnya suster membatasi tamu yang menjenguk saya. Dukungan dari saudara dan teman sangat membantu kami berdua menerima kenyataan ini. Selama hampir dua minggu saya di rumah sakit saya tidak pernah merasa kesepian. Selalu ada kerabat yang menemani saya ketika suami harus ke kantor.
Rencana Allah adalah rahasiaNya. Allah sudah mempersiapkan kami berdua untuk menghadapi kenyatan ini. Jauh-jauh hari kami dipersiapkan dengan mengikuti pelatihan di Paramadina yang salah satunya mengenai kematian sehingga kami bisa menerima kematian Raihan dengan ikhlas. Raihan adalah yang terbaik yang diberikan Allah kepada kami berdua saat ini. Tidak ada yang bisa menggantikan Raihan. Bila nanti kami diberi kepercayaan anak lagi maka anak kami nanti adalah yang terbaik berikutnya yang diberikan Allah kepada kami. Tujuh bulan bersamanya merupakan tujuh bulan terbaik dan terbahagia dalam hidup kami bertiga. Bahkan setelah Raihan pergi pun, dia tetap memberikan kebahagian kepada kami dan selalu mengingatkan kami untuk selalu menjalankan perintahNya agar kami bisa bertemu dengannya di surgaNya.
Raihan… Ibu kangen sekali sama kamu.. Semoga kita bisa bertemu di surga ya Nak…
Love you so much my son……….



Anak pertama saya namanya Reihan Alirahman. Kalo pengen baca bbrp ceritanya, ada tag Reihan dan Anencephaly di blog saya.
Berbahagialah Raihan karena dia dicintai ketika nyawa masih dikandung badan. Dan sekarang makin dicintai ketika ia kembali ke pangkuan-Nya.
Makasih sudah berbagi cerita ini ya Mbak.