Pasangan hidup yang terbaik…………
February 20, 2009 by utibrata
Beberapa waktu lalu, salah satu teman saya bertanya mengenai kriteria pasangan hidup yang baik itu seperti apa?
Setelah hampir sepuluh tahun menikah dan bahagia…. Pertanyaan ini membuat saya seperti melihat film flashback kehidupan saya sendiri….. karena seperti yang lain… kehidupan cinta saya juga tidak mulus-mulus benar… beberapa kali saya mengalami putus cinta….. tapi pasti ada pelajaran yang bisa saya ambil dari tiap episode kehidupan cinta saya….
Akhirnya saya sampai pada kesimpulan.. pasangan yang terbaik adalah yang kuat iman nya. Bukan jaminan orang yang taat menjalankan shalat lima waktu, sudah mampu pergi haji, tidak pernah lupa membayar zakat adalah orang yang kuat iman, karena ada juga yang tetap melakukan korupsi. Kriteria kuat iman bagi saya adalah bila dia TAKUT kepada Tuhan. Jadi biarpun berjauhan, saya yakin dia tidak akan berbuat dosa karena dia bukan takut karena kehadiran saya tapi dia tahu Allah Maha Mengetahui apapun yang disembunyikan olehnya.
Selain itu, satu pelajaran berharga yang saya dapat adalah.. pasangan yang baik tidak akan pernah membiarkan kita berbohong terutama kepada orang tua kita…. Nah kalau dia tahu kita berbohong dan dia membiarkan.. maka dia pasti tidak akan percaya sama kita.. karena apapun perkataan kita dia berpikir bahwa itu tidak jujur. Sama orangtua saja kita bohong.. apalagi ‘cuma’ sama pasangan.
Pendidikan yang seimbang juga penting dalam mencari pasangan karena kita akan menghabiskan sepanjang hidup kita bersama dia. Kalau dalam pembicaraan susah nyambung, kebayang kalau nanti udah berumur dan tinggal berdua di rumah, tidak bisa ngobrol dengan enak.
Latar belakang keluarga juga penting… karena mempermudah kita dalam penyesuaian setelah menikah. Walaupun sudah berpacaran bertahun-tahun, kehidupan pernikahan beda dengan pacaran.. Bayangkan hampir 24 jam kita terus menerus bersama dia. Kita tidak bisa lagi jaim di depan pasangan kita kalau sudah menikah. Walaupun ada beberapa teman saya yang tetap jaim selama menikah, tapi saya membayangkan.. betapa capek hidupnya.. harus hidup bukan sebagai dirinya yang sebenarnya…
Gimana dengan harta mbak, tanya teman saya. Kan kalau kita miskin pasti keluarga kita ga bahagia… Belum tentu.. kebahagian tidak selalu dapat diukur dengan kekayaaan. Bagi saya pribadi, harta bukan kriteria utama. Kalau disuruh memilih antara calon pasangan yang kaya karena kebetulan orangtuanya kaya dengan calon pasangan yang punya potensi untuk kaya di masa depan. Saya akan memilih yang kedua. Kenapa? Karena saya yakin.. orang yang memperoleh sesuatu dengan pengorbanan akan lebih menghargai apa yang dipunyainya daripada orang yang memperoleh sesuatu tanpa pengorbanan… Anak orang kaya biasanya (tidak semua lho ya) kurang menghargai apa yang dia punya, karena dari lahir dia sudah terbiasa dengan keadaan itu dan dia tidak perlu berkorban untuk mendapatkannya. Tetapi calon pasangan yang punya potensi untuk menjadi kaya karena misalnya dia punya semangat tinggi untuk bekerja demi keluarga akan lebih memberikan jaminan bagi saya. Lebih bagus lagi kalau dia anak orang kaya dan punya potensi untuk lebih kaya di masa depan…
Kriteria penting lainnya adalah RESPECT, saling menghormati. Dalam Islam, suami adalah Imam keluarga. Kita akan mengikuti Imam kita, kalau kita menghormati imam itu. Karena kalau kita menghormati seseorang, kita akan berusaha sekuat tenaga untuk tidak mengecewakan dia. Dan kita akan mengikuti nya dengan ikhlas bukan karena takut.
Dan kalau saya pada posisi sebagai calon Imam keluarga, maka saya akan mempersiapkan diri untuk pantas menjadi Imam dan pantas untuk mempunyai makmum atau pengikut.
Tapi itu semua adalah kriteria menurut saya, dan Alhamdulillah, dengan kriteria seperti itu yang saya sampaikan kepada sahabat saya, Wedar, ketika saya minta dicarikan suami, saya mendapatkan suami yang terbaik (lagi-lagi ini menurut saya lho) saat ini….
For my hubby… I’m so lucky to have you as my Imam….