Adikku tercinta, Ruri, dalam kenangan….
August 7, 2008 by utibrata

Moekti Ichtiarini Soejachmoen, atau Ruri Hujiansyah biasa orang mengenalnya. Atau Moekti nomor tiga, waktu kita bertiga masih satu sekolah di SD OEL… Allah swt akhirnya memberikan kesembuhan sempurna baginya setelah dua tahun lebih Ruri berjuang melawan penyakitnya….
Dua hari terakhir ini, perasaan ku bercampur aduk, antara sedih karena tidak bisa lagi bertemu dengan Ruri langsung, tidak bisa chatting lagi sama dia dan juga bahagia dan terharu melihat begitu banyak doa yang dipanjatkan untuknya melalui sms, email, milis NCC dan beberapa blog teman-teman yang mencintainya…
Rur… waktu terakhir aku pamit ke kamu tanggal 23 Juli lalu… aku udah ikhlas melepas dirimu karena aku sudah tidak tahan melihat kamu batuk-batuk.. Dua minggu aku nemenin kamu di RS MMC… selama itu aku benar-benar kagum dengan semua ketabahan dan kekuatan yang ada di dirimu… Satu keluhanpun tidak pernah keluar dari mulut kamu… Ketika dokter datang memberi tahu hasil CT Scan, aku yakin kamu juga sudah tahu hasilnya.. tapi aku ga tega untuk bilang langsung ke kamu Rur… maafin mbak Uti ya Rur.. aku waktu itu ga bilang terus terang ke kamu.. Aku ga tega Rur… Aku akhirnya bilang ke Alfie dan Alfie yang bilang ke kamu.. Aku takut berita itu akan membuat kamu down.. tapi aku lupa bahwa kamu adalah Ruri.. yang selalu optimis melihat dunia ini….
Ruri sudah lulus dari kehidupan di dunia dengan tingkat S3 dan nilai Cum Laude… Cobaan yang diberikan Allah kepada aku dan mas Prass ga ada apa-apanya dibandingkan dengan yang diberikan kepada Ruri dan Alfie. Tapi mereka berdua selalu lulus ujian itu dengan sangat baik.
Ujian terberat yang diberikan Allah ke aku dan Mas Prass adalah ketika Raihan diambil pemiliknya waktu di kandungan 7 bulan. Tapi ujian yang diberikan ke Ruri dan Alfie lebih berat. Latifah kembali ke pangkuanNya pada saat mereka telah siap menanti kehadirannya di dunia.. 9 bulan… Semua persiapan sudah disiapkan bahkan Abit sudah sangat excited dengan kehadiran adiknya. Hari itu aku kehilangan cincin kawinku di kantor… Aku panik luar biasa, bukan hanya karena cincin kawinku yang hilang tapi kata orang-orang kalo sampai kita kehilangan cincin kawin itu pertanda kita akan kehilangan orang yang kita cintai. Aku langsung telpon mas Prass ngasih tau kejadian itu dan mas Prass bilang ya sudah kalo cincinnya hilang… Pas perjalanan pulang dari kantor, Alfie telpon dan dia minta kita langsung ke RSB Asih untuk nemenin Ruri karena dokternya bilang ada yang ga beres dengan jantung Latifah… Jantungku langsung serasa berhenti… Please God… Not again.. Cukup sekali keluarga besar kami kehilangan bayi di kandungan… Begitu sampai di RSB Asih, aku langsung ketemu Ruri dan dia bilang.. “Mbak.. kayaknya bayinya ga ketolong…” Tapi Subhanallah.. Ruri sangat tenang saat itu.. Aku memeluk dia lama sekali… Membayangkan perasaannya… Dan ternyata benar.. setelah diobservasi memang Latifah sudah tidak ada…. Bayi cantik persis kakaknya itu tidak sempat menghirup udara dunia fana ini.. Dia langsung diambil dalam keadaan suci… Aku membesarkan hati Ruri… Latifah akan menunggu Ruri dan Alfie di pintu surga seperti Raihan menunggu aku dan mas Prass… Dan aku yakin sekarang Ruri sudah bertemu dengan Latifah dan Raihan di surga…. Malam itu aku menemani Ruri di RS karena Alfie pulang mengurus pemakaman Latifah.. Latifah dimakamkan di samping Raihan… Pasti mereka berdua asyik bermain di surga dan sekarang ditemani oleh Tante Ruri atau Bunda nya Latifah… Btw YangKung ikutan maen ga ya….
Ruri dan Alfie lulus ujian pertama dari Allah… Mereka berdua menerima kenyataan itu dengan besar hati…. Life goes on…. September 2006 pas ultah gerombolan September (Nadhira, Alfie, Ruri dan Ibu) mereka memberikan kabar gembira.. Ruri hamil lagi… Alhamdulillah…. Kami semua bahagia mendengarnya apalagi waktu itu aku baru keguguran ketiga kalinya… Ga ada rasa iri di hati karena Ruri hamil lagi, yang ada hanyalah rasa bahagia….
Tapi kebahagian itu lagi-lagi dibumbui dengan berita yang tidak mengenakkan, benjolan di payudara Ruri yang tadinya tumor jinak, berubah menjadi tumor ganas dan ukurannya juga bertambah dengan pesat. Aku inget banget waktu itu bulan Desember, pas akhir tahun itu, sambil tiduran di kamarnya, Ruri cerita kalau ada benjolan di payudaranya dan dia nyuruh aku pegang.. Masya Allah… benar itu benjolan sudah besar banget. Aku tanya apa yang bisa dilakukan… “Ga banyak mbak, karena aku lagi hamil, jadi ga bisa ada treatment apa2 karena takut mengganggu bayinya”. Karena benjolan itu makin besar akhirnya dokter memutuskan untuk melakukan biopsi, yang artinya Ruri harus dibius. Kita semua khawatir dengan kandungannya. Dokter bilang faktor resiko ke bayinya tidak besar sepanjang operasinya tidak lebih dari 2 jam dan resiko terburuk adalah kandungannya kontraksi yang berarti bayinya harus dikeluarkan. Akhirnya Alfie dan Ruri memutuskan untuk melakukan biopsi. Biopsi berlangsung dengan lancar tapi anehnya luka bekas operasi nya ga kering-kering. Darahnya terus mengalir… Ternyata hasil biopsi tidak menggemberikan… Kanker yang diderita oleh Ruri sudah cukup ganas jadi harus dilakukan mamectomy atau pengangkatan payudara kanannya…
Operasi ini lebih menegangkan karena operasinya lebih lama dan kemungkinan kontraksi lebih besar. Selama hampir 4 jam operasi, mataku ga lepas2 dari pintu kamar operasi dan tangga. Ngeliatin tangga karena takut dokter kandungan naek dan bergabung ke kamar operasi yang berarti something wrong with the baby.. Alhamdulillah operasi berjalan dengan lancar. Tapi lagi-lagi ada bad news.. ternyata kankernya sudah menyebar ke getah bening… Waduuh sedih banget dengernya….
Tapi sekali lagi Alfie dan Ruri lulus ujian. Alhamdulillah kandungan Ruri sehat dan tanggal 20 April 2007, Zhafira Putri Aldri lahir dengan selamat. Bayi yang lucu dan
sehat… Persalinan dengan Caesarian berjalan dengan lancar.. semua bahagia apalagi Abit.. Ada satu pertanyaan yang dilontarkan Abit yang bikin kita semua speechless. Dia nanya, “Bude, adikku yang sekarang ga meninggal kan? Dia sehat kan?”.. Alhamdulillah Abit, adiknya sehat…
Jam 7an aku dan mas Prass pulang dari RS, belum sampai 30 menit di perjalanan, tiba-tiba Alfie nelpon, minta kita balik ke RS karena Ruri kondisinya menurun dan minta kita membawa Abit pulang ke rumah Budenya… Langsung kita balik lagi ke RS ternyata memang kondisi Ruri drop karena terlalu pendarahan… Ternyata pendarahan itu disebabkan karena rahim Ruri tidak bisa kontraksi lagi dan rahimnya ternyata mengeras karena kapur untuk melindungi bayi dari serangan kankernya. Sehingga satu satunya cara adalah dengan mengangkat rahimnya. Masya Allah, dalam waktu kurang dari 24 jam Ruri harus menjalani operasi lagi dan kali ini adalah pengangkatan rahim. Ya Allah… berat sekali cobaan yang Engkau berikan kepada Ruri. Sebagai seorang perempuan, rahim adalah sesuatu yang sangat berharga. Tapi Ruri harus kehilangan rahimnya hanya dua bulan setelah dia menjalani mammectomy… Setelah selesai operasi, Ruri harus masuk ICU dan Zhafira harus masuk ruang khusus juga karena kuning… Dan di ICU itu aku nangis karena baru sekali ini melihat Ruri mengeluh kesakitan…. Ruri, seorang yang kuat sekali mengeluh kesakitan, jadi pasti sakitnya luar biasa… Aku ga tahan lama2 di dalam ICU karena ga tahan liat Ruri kesakitan gitu.
Keputusan dari dokter, begitu selesai melahirkan Ruri harus langsung menjalani
kemoterapi untuk menghentikan kankernya. Tapi Ruri memilih memberikan ASI Ekslusif kepada Zhafira selama 6 bulan… Subhanallah, Allah memang Maha Besar, hanya dengan satu payudara, Ruri bisa menyusui anaknya dengan lancar dan Zhafira sepertinya tahu bahwa bundanya hanya bisa menyusui dengan satu payudara jadi dia selalu kenyang setelah ASI bundanya habis.
Setelah selesai memberikan ASI Ekslusif Ruri kembali menjalani terapi. Kemoterapi dimulai sekitar bulan November kalau tidak salah. Dan Ruri seperti biasa tidak pernah mengeluh. Rambutnya mulai rontok dan dia mulai botak. Tapi dia tetap tidak pernah mengeluh.
Sampai saatnya aku harus ke Canberra, perpisahan waktu itu sangat berat karena aku tidak pernah berencana akan pulang ke Indonesia untuk liburan. Kita berpelukan lama sekali di dekat meja makan… Rasanya berat berpisah dengan Ruri waktu itu… Belum ikhlas rasanya untuk tidak bertemu lagi dengan Ruri… Saat itu kondisi Ruri sudah tidak terlalu baik. Tapi dia masih ceria seperti biasa. Banyak teman temannya tidak menyadarai kalau Ruri sakit parah, bahkan saudara saudara juga banyak yang tidak tahu.
Pas kemaren April liburan ke Jakarta, kondisi Ruri makin lemah. Dia semakin kurus, tapi semangat hidupnya masih sangat tinggi. Tidak pernah mengeluh sama sekali. Foto ini diambil waktu ulang tahun mas Langga dan mas Prass di rumah.
Ruri tidak hanya harus menjalani kemoterapi tetapi juga radio terapi karena tiba-tiba di dada kanannya tumbuh lagi benjolan yang besar dan keras. Tapi proses radioterapi juga tidak mulus karena HB Ruri sempat turun sebagai efek kemoterapi dan harus ditranfusi terlebih dahulu. Dan hebatnya Ruri, kadang-kadang dia menjalani radioterapi sendirian karena Alfie harus tugas ke Balikpapan. Saat itu aku berharap aku ada di Jakarta jadi bisa nemenin Ruri berobat.
Pas liburan Juni kemaren aku makin trenyuh dan sedih lihat kondisi Ruri. Dia lebih lemah dan tidak se-ceria biasanya karena batuk terus-terusan. Karena kankernya memang sudah menyebar ke paru-paru. Sedih sekali kalau lihat Ruri batuk karena kita tidak bisa menolong apa-apa.
Sampai pada satu sore, pas aku lagi di Surabaya dengan mas Prass, Alfie tiba-tiba sms memberi tahu kalau Ruri harus dirawat di RS karena pada saat kemoterapi, tiba-tiba Ruri sesak nafas sekali dan kondisinya sangat kritis. Sedih sekali mendengar berita itu karena lagi-lagi aku tidak bisa nemenin Ruri dan Alfie. Kebayang gimana paniknya Alfie saat itu karena tiba-tiba Ruri seperti berhenti bernafas dan dia sendirian di RS. Dan saat itu mbak Kuki juga sedang di Bandung. Begitu sampai Jakarta hari Minggu sore, aku langsung ke RS MMC dan kondisi Ruri sudah lebih baik. Itu karena nasehat dari dokter ahli paru-paru, Dr. Handoko, yang memberi semangat ke Ruri untuk berjuang demi melihat anak-anaknya besar. Dan semangat Ruri langsung naek lagi.
Selama di RS, Ruri tetap semangat, dia mau makan bahkan lahap sekali sampai aku yang sudah menunggu sisa makanan jatah rumah sakit cuma bisa bengong karena cuma dibagi kerupuk sama dia. Semua makanan disapu bersih olehnya. Dan hasilnya selama sekitar 17 hari di RS Ruri tambah segar dan tambah gemuk. Senang sekali melihatnya. Apalagi ketika dokter memberi tahu bahwa hasil rontgen terakhir menunjukkan paru-parunya sudah lebih bersih.
Somehow dokter ahli onkologi darah ngotot supaya Ruri menjalani CT Scan tapi pemeriksaan itu harus ditunda beberapa hari karena Ruri batuk terus dan untuk CT Scan harus tahan tidak bergerak sekitar 15 menit. Tapi akhirnya CT Scan bisa dilakukan dengan baik. Namun hasil CT Scan benar-benar mengagetkan. Kebetulan pas aku yang menemani Ruri di RS dan ketika dokter mengeluarkan hasil CT Scan, aku melihat dua titik di gambar otaknya Ruri. Langsung teringat dengan hasil Scan Bapak dulu.. Aku langsung deg-degan. Dokter tidak memberi tahu di depan Ruri, tapi aku dipanggil keluar dan diajak bicara oleh dokter. Sedih banget mendengar penjelasan dokter bahwa kankernya sudah sampai ke otak. Ketika balik ke kamar Ruri langsung nanya, “Mbak apa kata dokter?” Aku ga sanggup jawab, aku cuma bilang, “Ga bilang apa2 Rur. Masih tunggu Prof yang biasa nanganin kamu pulang dulu, baru nanti dia yang baca hasilnya”. Rasanya gimana banget harus berbohong ke Ruri. Aku waktu itu takut kalau berita ini akan membikin Ruri makin sedih dan depresi. Akhirnya aku sms Aflie dan ngasih tau hasilnya. Aku sarankan ke Alfie untuk tidak memberi tahu Ruri.
Tetapi akhirnya Alfie harus memberi tahu Ruri juga karena harus ada radioterapi untuk kanker otaknya. Dan ga mungkin Alfie ga cerita karena Ruri pasti bertanya untuk apa terapi itu. Dan diluar dugaan, Ruri menerima berita dengan tenang. Hari Sabtu pas aku sedang di Kopeng dengan mas Prass, Alfie kirim sms mengabarkan bahwa Ruri sudah bisa pulang dari RS. Senang banget dengarnya.
Hari Rabu, 23 Juli, aku harus pulang ke Canberra. Perpisahan kali ini dengan Ruri lebih ringan. Somehow aku lebih tenang berpisah dengan Ruri kali ini. Walaupun kita tetap berpelukan lama dan tangis-tangisan. Saat itu pesan aku ke Ruri adalah “Terus berjuang dan semangat ya Rur.. Aku nanti akan pulang lagi bulan Oktober”. Ruri memeluk aku erat sekali… seakan berat untuk dia melepaskan aku pergi… Mungkin Ruri juga sudah merasa bahwa kita tidak akan bertemu lagi…. Setelah aku bisikkan kata-kata itu, aku cium kedua pipinya sambil berkata “Aku sayang kamu Rur.. terus berjuang ya…..”.
Saat itu Ruri sedang siap2 untuk ke RSCM untuk menjalani radio terapi. Dia sudah pakai kursi roda karena sudah lemas. Dan Fira ternyata punya tempat favorit di kursi roda Ruri itu… Tempat favoritnya adalah di dekat kaki bundanya… Ruri masih tersenyum manis waktu kufoto… Akhirnya mereka masuk mobil dan pergi ke RSCM… Aneh rasanya melambaikan tangan ke Ruri saat itu. Begitu sampai di Canberra aku langsung sms Alfie dan memberi semangat ke dia.
Senin pagi, 28 Juli jam 3, sms berbunyi, ternyata Alfie mengabarkan bahwa malam itu Ruri dibawa ke RS naek ambulance karena persediaan oksigen di rumah sudah menipis dan Alfie tidak mau ambil resiko kalo tiba-tiba Ruri sesak nafas. Dan dia juga berpesan agar aku tidak usah mikirin Ruri konsentrasi aja ke pelajaran.
Paginya aku sms mbak Kuki, dan ternyata mbak Kuki dipanggil sama Alfie ke RS.. Wah ada apa nih. Tapi mbak Kuki juga belum tau keadaan sebenarnya. Ternyata hari Senin itu Ruri tiba-tiba dis-orientasi. Dia seperti ga kenal sama siapa-siapa dan agak siang tiba-tiba Ruri kejang. Dokter menyatakan bahwa kondisi Ruri sudah terminal dan jika kejang lagi Ruri akan langsung dibawa ke ICU. Alfie mengirim sms minta dimaafkan semua kesalahan Ruri… Duuuh.. sedih banget dengarnya, tapi aku berdoa meminta yang terbaik kepada Allah. Sekitar jam 4 sore Alfie menelpon, meminta agar aku mengikhlaskan Ruri dan memaafkan semua kesalahnnya. Di telpon aku dan Alfie tangis-tangisan. Aku menitipkan Ruri ke Alfie, tolong Ruri dibimbing hingga saatnya… Tidak lama setelah Alfie menelpon, mbak Kuki sms bahwa Ruri kejang lagi dan sekarang dibawa ke ICU. Mbak Kuki juga minta aku mengikhlaskan Ruri agar penderitaan Ruri diakhiri. Malam itu aku tidak bisa tidur. Berbagai perasaan bercampur aduk apalagi aku sendirian di sini. Rasanya pengen terbang aja ke Jakarta dan menemani keluarga di sana.. Tapi ga mungkin aku pulang sekarang. Akhirnya aku cuma bisa shalat, baca Al Quran dan berdoa agar Allah memberikan yang terbaik untuk Ruri.
Besok paginya, jam 11 pagi ada sms lagi dari Alfie. Alhamdulliah Ruri sudah sadar dan bisa kembali ke kamar biasa. What a miracle.. Ruri seperti normal kembali dan hari Jumatnya dia sudah bisa menjalani radio terapi lagi. Tapi pas malam Minggu mas Prass bilang kalo Ruri sesak nafas berat. Tapi ga ada berita lagi dari Jakarta, so aku pikir no news is good news.
Tapi tiba-tiba Selasa malam jam 8.30 pas aku lagi tidur (karena seharian aku keleyengan tanpa sebab) telpon bunyi dan tulisannya “No Caller ID” yang artinya telpon dari Jakarta. Deg jantung langsung copot. Ternyata Alfie yang menelpon dan bilang kalo kondisi Ruri sudah kritis banget. Dia sudah susah bernafas. Alfie minta aku benar-benar mengikhlaskan Ruri dan mohon didoakan dengan membaca Yassin. Langsung aku loncat dari tempat tidur, ambil air wudhu dan shalat Isya dilanjutkan dengan baca Al Quran, surat Ar Ro’du dan Yassin. Jam 9.40 mbak Kuki telpon hanya bilang “Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun”…. Agak lama aku bengong di depan komputer yang kebetulan saat itu lagi error internetnya. Beberapa detik kemudian baru aku tersadar dan berucap, “Ya Allah, ampuni semua kesalahan Ruri, terimalah semua amal ibadahnya dan berilah dia tempat terbaik di sisiMU. Aku yakin inilah yang terbaik untuk Ruri dan kami semua. Berilah kekuatan kepada kami semua untuk menerima ujian ini”.
Saat itu aku langsung mengirim sms ke beberapa sahabat di Canberra dan di Jakarta memberitahu kabar duka tersebut. Langsung mereke membalas sms dan mendoakan Ruri. Dan Titik langsung mengusulkan untuk mengadakan Tahlilan di sini dan teman-teman yang lain menyetujui. Alhamdulillah sekali, aku punya teman-teman yang sangat baik di sini. Mereka tidak kenal Ruri secara langsung tapi mereka mau meluangkan waktu untuk Tahlilan buat Ruri.
Besoknya aku harus kuliah seperti biasa dan begitu buka email dan FS dan FB ternyata banyak sekali email dan ucapan bela sungkawa dan doa untuk Ruri. Bahkan di milis NCC (Natural Cooking Club) selama dua hari dikhususkan untuk memberikan ucapan bela sungkawa untuk Ruri padahal biasanya ucapan belasungkawa harus dilakukan japri. Kira-kira ada 350 emails di milis itu yang memberikan ucapan belasungkawa dan doa untuk Ruri. Belum lagi sms yang masuk ke aku. Ucapan di FS dan FB dan blog teman-teman Ruri…. Belum lagi aku dapat laporan dari Dewi sahabatku, bahwa banyak sekali yang mengantar ke pemakaman Rur.. mungkin lebih banyak daripada waktu Bapak dulu….
Rur…. you’re loved by so many people not only by your family…
Ilmu yang kamu ajarkan ke mereka, Insya Allah menjadi pahala yang terus mengalir tanpa putus-putusnya untuk dirimu….
Aku sebagai kakakmu sangat bangga punya adik seperti kamu Rur….
So many sweet memories we shared together for almost 38 years….
No one will replace your place in my heart…
Please hug Raihan and Latifah and Bapak for me….
I do miss you all….
I hope I can join all of you in the heaven…..
Turut berdukacita ya mbak Uti… Almarhumah adalah orang pertama yang saya kenal di milis NCC. Dari tulisan mbak uti, saya baru tau kalo mbak rur juga alumni SD OeL seperti saya. Selamat jalan ya mbak rur…Semoga yang ditinggalkan diberikan ketabahan…
Turut berduka cita ya mba, walaupun tidak mengenal mba Ruri secara langsung, tapi saya yakin banget almarhumah adalah seorang anak, adik, istri, ibu dan sahabat yang baik krn semua itu terpancar dari senyumnya dan tulisan2 almarhumah di blognya. Selamat jalan Mba, semoga segala kebaikanmu menjadi jembatan menuju SurgaNya. Amin…
Mba uti, huaaaaaaaa… kok jadi pilek mendadak geneeeee. Tapi jadi ngebayangin juga, Mba Ruri, Latifah, Raihan n Bapak-nya mba Uti di surga. Hehehehe lagi ngetawain dirimu dari sana kayanya. Geli ngeliat mba uti yg bungkuk2 ngulang mikro
Live, Love and Laugh!
Mbak Uti…
Sorry aku baru tau…:-(
My deepest condolences ya Mbak… Maaf kalo selama beliau sakit aku ngga sempet nengok karena bener-bener ngga tau…
She’s so fortunate to have you during her life, and thank you so much for sharing, I really wanna hug my sister…
mbak Uti, Ruri pasti lagi senyum dengan bahagia sekali, karena dia bertemu dengan orang-orang tercinta..:)
Mbak Uti, inget nggak waktu kita kursus masakan padang yang seru dan akrab banget. Waktu itu Ruri masih sangat sehat..hiks… Ruri juga yang pertamakali mengenalkan Chicken Mayo nya Makcik yang sekarang populer sebagai American Risoles padaku.
Sulit sekali untuk menahan airmata, tapi Ruri pasti sudah lebih berbahagia di samping sang Pencipta. Kalau ketemu dalam mimpi, titipkan anakku Ben ya..biar main dengan Raihan dan Latifah
Mbak Uti, turut berduka cita yg sedalam-dalamnya.. Walaupun tidak mengenal Almarhumah, aku yakin seyakin-yakinnya, bahwa beliau adalah seorang Ibu Teladan, Semoga Allah SWT memberikan tempat terbaik untuk Mbak Ruri..dan semoga keluarga yg ditinggalkan diberi ketabahan..Amien..
Uti,
Aku baru mendarat dari Semarang waktu sms masuk bertubi-tubi mengabarkan kepergian Ruri. Alhamdulillah, masih sempat mengantar ke pemakaman. Ikut berduka yang sedalam-dalamnya meskipun haqqul yakin bahwa inilah jalan terbaik yang dipilihkanNYA. Dalam perkenalan kita yang singkat, cukup banyak kenangan bersama Ruri (masih ingat kursus Masakan Padang sama Uni Dewi di rumah??). Insya allah, Ruri diberikan tempat terbaik di keabadiannya. Amien
Subhanallah..
Ikut berduka cita dengan kepergian mbak Ruri. Perjuangan dan ketabahannya sangat menyentuh hati…
Tiii… gue udah baca 2 kali.. .itupun ga berani word by word…. tapi tetep aja gue berlinangan air mata… !!!
mbak saya ikut berduka cita atas kepergian mbak ruri..
saya kenal beliau waktu di NCC..saya kagum..mbak ruri ramah banget meskipun baru kenal pertama kali…saya sering nyebut ibu admin…
semoga mbak ruri diberi tempat yang terbaik oleh Allah SWT.
Subhanallah….ti. Gak kuat aku menahan air mata ini. Aku gak tau kalau penderitaan ruri seperti itu. Yang aku sangat salut ketabahan ruri itu lo. Sangat menerima apa yang sudah menjadi ketentuan Allah. Aku teringat masa kecilnya ruri di pontianak. Keluarga Soejachmoen yang sangat dekat denganku. Semuanya terbayang diingatanku skr. Ruri…..semoga kebaikan yang telah kau tanamkan dalam kehidupanmu dapat mengiringimu ke surga, amin…….
Innalillahi wa inna illaihi rojiuun..
Saya kenal mbak Ruri cuma dari resep2 beliau aja. Saya udah tau kalo mbak Ruri meninggal dunia krn kanker, tapi baru aja tau di site ini tahapan ujian dari Allah yg harus beliau jalani. Satu kata, Subhanallah, begitu tabah & tegarnya beliau. Insya Allah kesabaran mbak Ruri menjalani ujian Allah ini akan menjadi peningkat pahala & penghapus dosa2 di masa lalu, amiin.. apalagi mbak Ruri meninggal dunia dalam keadaan sakit, itu kan berarti wafat dlm keadaan syahid !