Feed on
Posts
comments
Hari ini sembilan tahun yang lalu, tepatnya 16 Agustus 2000, Allah memberikan nikmat yang begitu besar kepada saya dan suami saya. Putra pertama kami, Raihan Iman Nugraha telah kembali ke pangkuanNya sebelum dia menghirup udara dunia yang fana ini. Tujuh bulan bersama dirinya di dalam kandungan saya merupakan saat-saat yang membahagiakan dalam hidup kami berdua.

Masih terbayang jelas di pikiran saya apa yang saya rasakan dan alami sembilan tahun lalu. Seperti pasangan lain yang baru menikah, kami berdua sudah sangat ingin dikaruniai keturunan apalagi kami menikah bukan dalam usia yang muda lagi. Masa-masa menjelang jadwal menstruasi adalah masa-masa yang mendebarkan. Tiap bulan saya berharap saya terlambat dan positif hamil. Sudah lebih dari lima kali saya membeli test pack karena menstuasi saya terlambat tapi berkali-kali pula saya kecewa karena ternyata hasilnya negatif.

Pada bulan ketujuh pernikahan kami, kami konsultasi ke dokter kandungan dan mengeluh bahwa kami belum juga diberi keturunan. Sang dokter bertanya, memang sudah berapa lama menikah? Saya jawab sudah tujuh bulan Dok, tapi sampai saat ini saya belum hamil juga. Eeh si dokter malah ‘memarahi’ saya..”Mbak.. itu BARU tujuh bulan bukan SUDAH tujuh bulan. Banyak pasangan yang sudah menikah tujuh tahun belum juga diberi keturunan. Mbak dan Mas sehat kok ga ada kelainan jadi memang belum waktunya diberi keturunan oleh Allah.

Sejak itu saya dan suami saya tidak terlalu ‘obsesi’ punya anak. Menstruasi dari bulan ke bulan saya hadapi dengan tenang. Sampai pada suatu saat saya merasa tidak enak badan dan saat periksa ke dokter, sang dokter bilang.. ah ini bukan sakit Bu, tapi mungkin Ibu hamil. Tapi saya tidak percaya karena sepertinya saya baru saja menstruasi..

Beberapa hari kemudian tiba-tiba saya kepingin sekali makan bebek goreng. Dalam perjalanan pulang dari kantor di Lapangan Banteng sampai rumah kami di Depok Lama, kami selalu berhenti di setiap warung bebek goreng di sepanjang jalan. Tapi tiap kali kita berhenti pasti bebek gorengnya habis. Dari mulai kita parkir mobil dengan baik dan benar sampai akhirnya saya disuruh turun dan tanya dulu ke penjualnya apakah ada bebek goreng. Akhirnya sampai di dekat rumahpun tak ada satupun warung bebek goreng yang punya persediaan bebek goreng dan malam itu berakhir dengan makan mie goreng instant (karena saya sudah males masak dan waktu itu kita hanya berdua di rumah).

Besoknya saya makin tidak enak badan dan akhirnya tidak masuk kantor. Siang hari tiba-tiba saya kepingin makan tart coklat yang ada di Hotel Borobudur dan saya telpon sang suami untuk membelikan tart coklat itu tapi dia bilang.. “Ah nanti aja Ti kalau kamu dah masuk kantor kan gampang tuh ke Hotel Borobudur, tinggal nyebrang jalan aja. Jadi kamu bisa beli sendiri aja nanti pas kamu dah sembuh” Ya sudah besok nya setelah saya agak enakan, saya beli tart coklat itu beberapa potong dan sampai di rumah ternyata tidak saya makan malah dimasukkan ke lemari es sampai berminggu-minggu.

Kantor saya waktu itu berencana untuk mengadakan senam di kantor dan saat itu salah satu teman saya bilang ke saya, “Ti, biasanya kan jadwal mens saya sama kamu sama kan? Tapi kok kayaknya bulan ini kamu belum mens ya.. padahal saya udah mens beberapa minggu lalu.. Jangan-jangan kamu hamil lho Ti.. hayoo test sana, karena kita mau ngadain senam di kantor”

Hmmmm saya langsung berpikir.. iya juga ya…bulan ini saya belum mens, Pulang kantor kami mampir ke apotik dan membeli test pack. Besok paginya sebelum shalat Subuh, saya test kehamilan dan karena sudah ‘pasrah’ test pack nya tidak dipelototin seperti bulan-bulan sebelumnya. Saya wudhu dulu baru ambil test pack itu lagi. Pas saya angkat, ternyata kok tandanya Positif. Saya tidak percaya… ah masa sih.. positif.. saya lihat sekali lagi dan memang benar tandanya positif. Langsung saya masuk ke kamar lagi dan membangunkan suami, seperti biasa dia masih belum ngeh kalau baru bangun tidur. Saya bilang.. “Yank… aku positif Yank” sambil bilang gitu tanpa terasa air mata saya mengalir.. Dia bingung.. “eh.. apa Ti? Apa yang positif?” Setelah beberapa detik baru dia sadar dan dia juga menangis karena benar-benar kami tidak menyangka. Kita berdua langsung sujud syukur. Sorenya untuk meyakinkan kami langsung pergi ke dokter kandungan dan ternyata memang benar saya sudah hamil dan janin nya sudah seukuran 2 centimeter. Begitu pulang dari dokter, langsung kami menelpon orang tua karena kami tidak tahan lagi untuk membagi berita bahagia ini.

Hmmm jadi kemarin itu yang kepengen bebek goreng dan tart coklat itu nyidam ya.. Untung saya tidak tahu kalau saya ngidam jadi tidak sakit hati karena tidak dapat bebek gorengnya dan harus menunggu sehari untuk bisa beli tart coklatnya. Yang lucu, yang nyidam justru suami saya. Pernah pada suatu saat kami berdua sedang ikut pelatihan di Paramadina, tiba-tiba dia keluar ruangan dan sekitar sepuluh menit kemudian baru masuk lagi ruangan dengan wajah yang sumringah. Saya tanya ke dia, “Dari mana yank?”. Dengan santainya dia bilang” Hmm abis makan mie ayam di luar. Abis kepingin banget”. Lain waktu dia memaksa kita semua (saya dan asisten di rumah) untuk makan seafood di depan kompleks. Alasan dia..” Ayo Ti.. kamu pasti mau seafood kan.. hayoo kita makan di warung depan kompleks itu” Saya sebenarnya malas keluar tapi dia tetap ngotot bahwa saya kepingin seafood. Dan akhirnya kita memang makan seafood dan setelah itu wajahnya kembali sumringah.

Masa-masa kehamilan itu adalah pengalaman yang sangat membahagiakan, tidak pernah ada morning sickness yang ada malah evening sickness, mungkin karena saya capek di kantor. Dan yang paling tidak bisa ditahan adalah rasa kantuk setelah makan siang. Jadi seringkali saya ketiduran di kantor dengan tangan masih di atas keyboard komputer hehehehe… Saya cuma sekali muntah selama hamil itupun karena saya makan ikan bakar di restaurant dan sepertinya ikan nya tidak terlalu fresh. Begitu sampai di rumah, semua makanan itu keluar lagi.. wuiiih rasanya ga enak banget muntah. Untung saya tidak kena morning sickness.

Kehamilan saya di bulan-bulan pertama berlangsung lancar tapi memasuki bulan ke empat, tekanan darah saya naik terus dan kaki bengkak padahal saya sudah diet keras tidak makan garam sama sekali. Bulan kelima kehamilan, saya harus bedrest 3 hari di RS karena tekanan darah saya sampa 150. Tapi alhamdulilah setelah itu bisa turun sedikit.

Saat yang paling membahagiakan selama kehamilan adalah ketika saya bisa ‘bermain-main’ dengan Raihan. Seperti calon ibu lainnya saya juga sering memperdengarkan musik klasik untuk Raihan. Dan setelah mendengar musik klasik, kalau saya sentuh perut saya, Raihan sering membalas ‘memukul’ saya. Memang ‘pukulan’ nya tidak sekeras ‘pukulan’ Abit di perut adik saya tapi saya sudah merasa senang bisa bermain-main dengan dia.

Pelajaran berharga lainnya yang saya dapat selama kehamilan adalah saya dilatih untuk bersabar. Saya adalah orang yang selalu ingin tahu hasil akhirnya seperti apa dan saya bisa mengontrol segala situasi. Tapi selama kehamilan, saya tidak bisa tahu bagaimana sebenarnya keadaan bayi di kandungan saya sebenarnya. Seperti apa rupanya, apa jenis kelaminnya, apa dia mirip saya atau mirip suami saya, apakah dia sehat dan sebagainya. Saya benar-benar diuji kesabarannya untuk menunggu sampai waktunya, baru saya bisa tahu seperti apa hasilnya.

Saat lain yang menggembirakan adalah pada saat USG, pas di USG ternyata Raihan beraksi, gayanya pada saat di USG adalah seperti orang yang bersantai di pinggir pantai dengan kedua tangan ada di belakang kepalanya. Sudah seperti boss besar aja gayanya. Sayang waktu itu USG nya tidak diprint.

Akhirnya kandungan saya masuk bulan ketujuh dan kedua orang tua kami sudah mulai heboh mempersiapkan kelahiran, Ibu saya sudah ‘memaksa’ untuk membeli keperluan bayi seperti popok dan sebagainya, sedangkan ibu mertua sudah mulai menyuruh menyiapkan box bayi. Tapi anehnya saya sama sekali tidak antusias membeli perlengkapan itu. Saya malah lebih antusias mencari nama untuk bayi saya. Setelah mencari-cari akhirnya pilihan saya adalah Raihan, salah satu kata yang ada di surat Ar Rahman yang berarti wangi-wangian surga. Kemudian kami minta masukan kepada kedua orang tua kami nama apa yang mau mereka berikan kepada anak kami. Ibu saya memberi nama Iman, karena kata Ibu, waktu Ibu hamil saya dan memperkirakan bayinya laki-laki, Ibu sudah menyiapkan nama Iman, tapi ternyata yang lahir bayi perempuan. Sedangkan Ibu mertua memberi nama Nugraha yang artinya Anugrah. Akhinya kami sepakat untuk memberi nama Raihan Iman Nugraha.

Tanggal 15 Agustus saya periksa ke dokter seperti biasa, tapi ternyata kali ini tekanan darah saya mencapai 170 dan dokter menyuruh saya bedrest beberapa hari di RS. Instruksi dokter tersebut saya lakukan, malam itu saya tidak pulang ke rumah tapi menginap di RS. Kebetulan tanggal 16 Agustus, Ibu mertua sudah menyiapkan acara tujuh bulanan di rumahnya. Dan karena pengalaman saya pada bedrest sebelumnya maka malam itu saya menyuruh suami pulang ke rumah Ibunya untuk membantu mempersiapkan acara tujuh bulanan besok harinya. Jadi malam itu saya menginap sendirian di RSPI.

Sekitar jam 11 malam, suster memeriksa kandungan saya, semua baik-baik saja, detak jantung masih kuat dan tidak ada keluhan sama sekali. Sekitar jam 1 pagi saya mules luar biasa, dan beberapa kali ke kamar mandi tapi tidak ada yang keluar. Setelah itu saya muntah tapi tidak banyak dan saya kembali tidur. Sekitar jam 3 pagi, saya terbangun dan merasa ada yang aneh, begitu saya check ternyata ada bercak darah di celana saya. Saya langsung memanggil suster, dan pada saat itu saya berdoa kepada Allah, “ Ya Allah berilah yang terbaik untuk saya dan anak saya. Kalau memang Engkau menghendaki dia pergi, saya ikhlas ya Allah. Berilah kekuatan kepada saya. Tidak ada kekuatan selain dariMu ya Allah” Setelah berdoa, saya merasa lebih tenang. Suster langsung datang dan begitu melihat saya pendarahan, dia langsung memasang alat untuk mencari detak jantung bayi. Setelah dicoba lebih dari satu jam, suster tidak berhasil menemukan detak jantung dan akhirnya dia bilang ke sana “Bu, kita sudah coba mencari detak jantung anak Ibu, tapi sepertinya tidak ada detak jantung lagi Bu. Anak Ibu sudah meninggal”. Saya tidak langsung menelpon suami saat itu karena masih jam 4 pagi dan saya takut membuat dia panik. Akhirnya setelah Subuh, saya menelpon dan hanya memberi tahu kalau saya pendarahan.

Setelah suami sampai di rumah sakit, baru saya beritahu kalau anak kami sudah tidak ada. Reaksi suami sama seperti saya, dia bilang “Ti, ini yang terbaik yang diberikan Allah untuk kita. Ikhlas kan ya”. Dia hanya duduk di samping tempat tidur menempelkan kepala di kasur sambil memegang tangan saya dan menunggu dokter datang. Setelah dokter datang baru kami memberi tahu keluarga. Semua kaget terlebih Ibu mertua saya karena beliau sedang sibuk memasak untuk acara Tujuh Bulanan pagi itu. Akhirnya sekitar jam 7 pagi saya dioperasi Caesar karena ternyata saya pendarahan dalam dan kondisi saya saat itu juga kritis karena pendarahan saya sudah sekitar 2.5 liter. Anehnya saya sama sekali tidak merasakan apa-apa. Ketika bayi sudah berhasil dikeluarkan, dokter menanyakan apakah saya mau melihat wajah anak saya, tapi saya menolak dan saya hanya memastikan bahwa anak saya laki-laki. Setelah itu bayi saya dibawa keluar dan diserahkan kepada keluarga dan saya tertidur karena dibius. Raihan mukanya mirip sekali dengan saya (dan juga Bapak saya karena saya mirip Bapak) dengan rambut yang tebal, tetapi suami saya dengan bangganya berkata… “ga apa-apa mukanya mirip kamu Ti, tapi ‘itunya’ mirip aku”…. (ya iyalah.. karena Raihan kan cowo….)

Ketika saya terbangun, saya sudah di ruang recovery dan keluarga sudah menunggu semua. Raihan sudah dimandikan dan sudah dibawa ke rumah mertua saya untuk dishalatkan dan kemudian dikuburkan. Ada kejadian lucu di rumah mertua saya, karena ada bendera kuning di depan rumah mertua, maka tetanga-tetangga yang diundang untuk tujuh bulanan berkomentar, “Lucu ya orang Jawa, tujuh bulanan kok pake bendera kuning”. Dan mereka semua kaget karena ternyata acara tujuh bulanan yang direncanakan berubah menjadi acara pemakaman. Alhamdulillah kami tidak mendapat kesulitan memperoleh pemakaman karena hubungan baik mertua saya dengan aparat kelurahan. Raihan dimakamkan di Pemakaman Wakaf Kampung Utan yang hanya berjarak beberapa meter dari rumah yang kami tempati saat ini.

Esok harinya karena kebetulan hari libur, 17 Agustus, banyak sekali teman-teman dan saudara yang mengunjungi saya di rumah sakit. Sampai-sampai suster di RS bertanya-tanya, memang siapa sih di kamar itu kok banyak banget tamunya dan akhirnya suster membatasi tamu yang menjenguk saya. Dukungan dari saudara dan teman sangat membantu kami berdua menerima kenyataan ini. Selama hampir dua minggu saya di rumah sakit saya tidak pernah merasa kesepian. Selalu ada kerabat yang menemani saya ketika suami harus ke kantor.

Rencana Allah adalah rahasiaNya. Allah sudah mempersiapkan kami berdua untuk menghadapi kenyatan ini. Jauh-jauh hari kami dipersiapkan dengan mengikuti pelatihan di Paramadina yang salah satunya mengenai kematian sehingga kami bisa menerima kematian Raihan dengan ikhlas. Raihan adalah yang terbaik yang diberikan Allah kepada kami berdua saat ini. Tidak ada yang bisa menggantikan Raihan. Bila nanti kami diberi kepercayaan anak lagi maka anak kami nanti adalah yang terbaik berikutnya yang diberikan Allah kepada kami. Tujuh bulan bersamanya merupakan tujuh bulan terbaik dan terbahagia dalam hidup kami bertiga. Bahkan setelah Raihan pergi pun, dia tetap memberikan kebahagian kepada kami dan selalu mengingatkan kami untuk selalu menjalankan perintahNya agar kami bisa bertemu dengannya di surgaNya.

Raihan… Ibu kangen sekali sama kamu.. Semoga kita bisa bertemu di surga ya Nak…
Love you so much my son……….

Hamil berdua
Mas Prass menggendong Raihan terakhir kali
Three of us…..

Surat cinta dari suami tercinta yang dibuat tanggal 6 Juni 2009 waktu aku lagi stress belajar untuk ujian:

1. Terimakasih untuk membuatkan aku susu atau teh
2. Terimakasih sudah membuatkan aku sop buntut, sop iga, tongseng, dan steak yang begitu enak
3. Terimakasih sudah mengantarkan aku ke dokter dan rumah sakit waktu aku sakit, bahkan sebelum kita menikah
4. Terimakasih sudah melindungi aku ketika aku diganggu dan dikejar wanita lain untuk dimiliki.
5. Terimakasih sudah mendengarkan aku ketika berkeluh kesah
6. Terimakasih sudah membelikan aku Blackberry
7. Terimakasih sudah membayar ongkos kursus-kursusku
8. Terimakasih sudah memberi ruang pribadi aku dan mengizinkan aku hang-out sama teman-temanku - bahkan dengan yang wanita sekalipun
9. Terimakasih telah menjaga rahasia-rahasiaku
10. Terimakasih sudah tetap menghormatiku meskipun gajimu jauh lebih besar dariku.
11. Terimakasih sudah menanggung biaya pengobatan almarhum ayahku
12. Terimakasih sudah memaafkan aku waktu lupa membelikan pesananmu
13. Terimakasih sudah menjadi ibu dari almarhum anak kita
14. Terimakasih sudah menerima aku apa adanya
15. Terimakasih untuk selalu mengingatkanku menaruh barang di tempatnya kembali
16. Terimakasih untuk cemburumu yang menyelamatkan aku
17. Terimakasih sudah mau menyupiri aku ketika aku kecapean nyupir
18. Terimakasih sudah mau mijetin aku dengan enak
19. Terimakasih mau beberapakali membayari tagihan kartu kreditku
20. Terimakasih kamu dandan cantik untukku
21. Terimakasih kamu selalu minta sholat berjemaah denganku
22. Terimakasih kamu menyayangi keluargaku dan menjadi teman dari teman-temanku
23. Terimakasih untuk hal-hal yang tidak bisa diceritakan di sini
24. Terimakasih kamu masih mencintai aku sampai sekarang
25. Terimakasih kamu masih punya banyak hal yang patut membuat aku berterimakasih

Beberapa waktu lalu, salah satu teman saya bertanya mengenai kriteria pasangan hidup yang baik itu seperti apa?

Setelah hampir sepuluh tahun menikah dan bahagia…. Pertanyaan ini membuat saya seperti melihat film flashback kehidupan saya sendiri….. karena seperti yang lain… kehidupan cinta saya juga tidak mulus-mulus benar… beberapa kali saya mengalami putus cinta….. tapi pasti ada pelajaran yang bisa saya ambil dari tiap episode kehidupan cinta saya….

Akhirnya saya sampai pada kesimpulan.. pasangan yang terbaik adalah yang kuat iman nya. Bukan jaminan orang yang taat menjalankan shalat lima waktu, sudah mampu pergi haji, tidak pernah lupa membayar zakat adalah orang yang kuat iman, karena ada juga yang tetap melakukan korupsi. Kriteria kuat iman bagi saya adalah bila dia TAKUT kepada Tuhan. Jadi biarpun berjauhan, saya yakin dia tidak akan berbuat dosa karena dia bukan takut karena kehadiran saya tapi dia tahu Allah Maha Mengetahui apapun yang disembunyikan olehnya.

Selain itu, satu pelajaran berharga yang saya dapat adalah.. pasangan yang baik tidak akan pernah membiarkan kita berbohong terutama kepada orang tua kita…. Nah kalau dia tahu kita berbohong dan dia membiarkan.. maka dia pasti tidak akan percaya sama kita.. karena apapun perkataan kita dia berpikir bahwa itu tidak jujur. Sama orangtua saja kita bohong.. apalagi ‘cuma’ sama pasangan.

Pendidikan yang seimbang juga penting dalam mencari pasangan karena kita akan menghabiskan sepanjang hidup kita bersama dia. Kalau dalam pembicaraan susah nyambung, kebayang kalau nanti udah berumur dan tinggal berdua di rumah, tidak bisa ngobrol dengan enak.

Latar belakang keluarga juga penting… karena mempermudah kita dalam penyesuaian setelah menikah. Walaupun sudah berpacaran bertahun-tahun, kehidupan pernikahan beda dengan pacaran.. Bayangkan hampir 24 jam kita terus menerus bersama dia. Kita tidak bisa lagi jaim di depan pasangan kita kalau sudah menikah. Walaupun ada beberapa teman saya yang tetap jaim selama menikah, tapi saya membayangkan.. betapa capek hidupnya.. harus hidup bukan sebagai dirinya yang sebenarnya…

Gimana dengan harta mbak, tanya teman saya. Kan kalau kita miskin pasti keluarga kita ga bahagia… Belum tentu.. kebahagian tidak selalu dapat diukur dengan kekayaaan. Bagi saya pribadi, harta bukan kriteria utama. Kalau disuruh memilih antara calon pasangan yang kaya karena kebetulan orangtuanya kaya dengan calon pasangan yang punya potensi untuk kaya di masa depan. Saya akan memilih yang kedua. Kenapa? Karena saya yakin.. orang yang memperoleh sesuatu dengan pengorbanan akan lebih menghargai apa yang dipunyainya daripada orang yang memperoleh sesuatu tanpa pengorbanan… Anak orang kaya biasanya (tidak semua lho ya) kurang menghargai apa yang dia punya, karena dari lahir dia sudah terbiasa dengan keadaan itu dan dia tidak perlu berkorban untuk mendapatkannya. Tetapi calon pasangan yang punya potensi untuk menjadi kaya karena misalnya dia punya semangat tinggi untuk bekerja demi keluarga akan lebih memberikan jaminan bagi saya. Lebih bagus lagi kalau dia anak orang kaya dan punya potensi untuk lebih kaya di masa depan…

Kriteria penting lainnya adalah RESPECT, saling menghormati. Dalam Islam, suami adalah Imam keluarga. Kita akan mengikuti Imam kita, kalau kita menghormati imam itu. Karena kalau kita menghormati seseorang, kita akan berusaha sekuat tenaga untuk tidak mengecewakan dia. Dan kita akan mengikuti nya dengan ikhlas bukan karena takut.
Dan kalau saya pada posisi sebagai calon Imam keluarga, maka saya akan mempersiapkan diri untuk pantas menjadi Imam dan pantas untuk mempunyai makmum atau pengikut.

Tapi itu semua adalah kriteria menurut saya, dan Alhamdulillah, dengan kriteria seperti itu yang saya sampaikan kepada sahabat saya, Wedar, ketika saya minta dicarikan suami, saya mendapatkan suami yang terbaik (lagi-lagi ini menurut saya lho) saat ini….

For my hubby… I’m so lucky to have you as my Imam….

Kemaren saya baru mendapat pencerahan dari teman saya Bowo, tentang masalah nama. Gara-gara status Facebook nya mengenai pepatah-pepatah Jawa yang sudah sering dilupakan orang, akhirnya saya iseng menguji dia dengan bertanya arti nama saya.

Nama yang diberikan orang tua saya kepada saya adalah Moekti Prasetiani Soejachmoen. Kami tiga bersaudara, perempuan semua, semuanya memakai nama Moekti. Hanya middle name nya saja yang berbeda. Kakak saya Moekti Handajani, adik saya almarhumah Moekti Ichtiarini.

Bowo menjelaskan bahwa:
Moekti artinya sukses, bahagia, mulia
Prasetiani artinya janji/ikrar

Jadi kalo digabung, nama saya Moekti Prasetiani artinya adalah janji atau ikrar atau sumpah akan menjadi manusia yg berhasil seutuhnya lahir dan batin.

Alangkah bagusnya doa orang tua saya kepada saya. Dan Insya Allah saya dapat menjalaninya.

Terus saya tanya lagi ke dia kalo Handajani itu artinya apa. Ternyata Handajani itu artinya kekuatan. Dan waktu saya konfirmasi ke kakak saya, dia mengartikan namanya sebagai: sukses dan berhasil karena memberikan daya dan kekuatan kepada yg lain. Yang 100% sesuai dengan jabatannya sekarang ini sebagai Executive Director sebuah NGO yang bergerak di bidang energi dan lingkungan yang selalu memberikan daya dan kekuatan kepada anak buah dan rekan-rekannya. Berarti doa orang tua kami untuknya sudah terkabul.

Saya jadi berpikir kembali mengenai nama adik saya, Moekti Ichtiarini. Ichtiarini berasal dari kata Ichtiar yang berarti usaha, ternyata doa orang tua saya itu yang memberikan kekuatan kepada adik saya tercinta untuk terus berusaha dan berjuang melawan kankernya sampai akhirnya dia berhasil dan sukses kembali ke pangkuan Nya dengan tenang dan Insya Allah semua ilmu memasak yang diberikan kepada rekan-rekannya terus mengalir kepadanya tanpa henti.

Doa kami juga yang kami berikan kepada anak kami tercinta Raihan Iman Nugraha. Nama Raihan diambil dari surat Ar Rahman yang artinya Wangi-wangian Syurga. Nugraha berasal dari kata Anugerah, yang diberikan oleh Ibu suami saya dan Iman diberikan oleh Ibu saya.
Dan ternyata anak kami Raihan Iman Nugraha, memanglah sebuah anugerah yang diberikan Allah kepada kami untuk memperkuat iman kami berdua dan sekarang Raihan menjadi wangi-wangian di syurga Nya (karena dia tidak pernah sempat menghirup udara dunia yang fana, dia kembali dalam keadaan suci ke pangkuanNya) dan dia setia menanti kami di pintu syurga.

So temans….ingatlah bahwa nama kita adalah doa terbaik yang diberikan orang tua kita kepada kita. Dan mudah-mudahan kita semua bisa memenuhi doa itu.

Ruri_abit_fira
Moekti Ichtiarini Soejachmoen, atau Ruri Hujiansyah biasa orang mengenalnya. Atau Moekti nomor tiga, waktu kita bertiga masih satu sekolah di SD OEL… Allah swt akhirnya memberikan kesembuhan sempurna baginya setelah dua tahun lebih Ruri berjuang melawan penyakitnya….

Dua hari terakhir ini, perasaan ku bercampur aduk, antara sedih karena tidak bisa lagi bertemu dengan Ruri langsung, tidak bisa chatting lagi sama dia dan juga bahagia dan terharu melihat begitu banyak doa yang dipanjatkan untuknya melalui sms, email, milis NCC dan beberapa blog teman-teman yang mencintainya…

Rur… waktu terakhir aku pamit ke kamu tanggal 23 Juli lalu… aku udah ikhlas melepas dirimu karena aku sudah tidak tahan melihat kamu batuk-batuk.. Dua minggu aku nemenin kamu di RS MMC… selama itu aku benar-benar kagum dengan semua ketabahan dan kekuatan yang ada di dirimu… Satu keluhanpun tidak pernah keluar dari mulut kamu… Ketika dokter datang memberi tahu hasil CT Scan, aku yakin kamu juga sudah tahu hasilnya.. tapi aku ga tega untuk bilang langsung ke kamu Rur… maafin mbak Uti ya Rur.. aku waktu itu ga bilang terus terang ke kamu.. Aku ga tega Rur… Aku akhirnya bilang ke Alfie dan Alfie yang bilang ke kamu.. Aku takut berita itu akan membuat kamu down.. tapi aku lupa bahwa kamu adalah Ruri.. yang selalu optimis melihat dunia ini….

Ruri sudah lulus dari kehidupan di dunia dengan tingkat S3 dan nilai Cum Laude… Cobaan yang diberikan Allah kepada aku dan mas Prass ga ada apa-apanya dibandingkan dengan yang diberikan kepada Ruri dan Alfie. Tapi mereka berdua selalu lulus ujian itu dengan sangat baik.

Ujian terberat yang diberikan Allah ke aku dan Mas Prass adalah ketika Raihan diambil pemiliknya waktu di kandungan 7 bulan. Tapi ujian yang diberikan ke Ruri dan Alfie lebih berat. Latifah kembali ke pangkuanNya pada saat mereka telah siap menanti kehadirannya di dunia.. 9 bulan…  Semua persiapan sudah disiapkan bahkan Abit sudah sangat excited dengan kehadiran adiknya. Hari itu aku kehilangan cincin kawinku di kantor… Aku panik luar biasa, bukan hanya karena cincin kawinku yang hilang tapi kata orang-orang kalo sampai kita kehilangan cincin kawin itu pertanda kita akan kehilangan orang yang kita cintai. Aku langsung telpon mas Prass ngasih tau kejadian itu dan mas Prass bilang ya sudah kalo cincinnya hilang… Pas perjalanan pulang dari kantor, Alfie telpon dan dia minta kita langsung ke RSB Asih untuk nemenin Ruri karena dokternya bilang ada yang ga beres dengan jantung Latifah… Jantungku langsung serasa berhenti… Please God… Not again.. Cukup sekali keluarga besar kami kehilangan bayi di kandungan… Begitu sampai di RSB Asih, aku langsung ketemu Ruri dan dia bilang.. “Mbak.. kayaknya bayinya ga ketolong…” Tapi Subhanallah.. Ruri sangat tenang saat itu.. Aku memeluk dia lama sekali… Membayangkan perasaannya… Dan ternyata benar.. setelah diobservasi memang Latifah sudah tidak ada…. Bayi cantik persis kakaknya itu tidak sempat menghirup udara dunia fana ini.. Dia langsung diambil dalam keadaan suci… Aku membesarkan hati Ruri… Latifah akan menunggu Ruri dan Alfie di pintu surga seperti Raihan menunggu aku dan mas Prass… Dan aku yakin sekarang Ruri sudah bertemu dengan Latifah dan Raihan di surga….  Malam itu aku menemani Ruri di RS karena Alfie pulang mengurus pemakaman Latifah.. Latifah dimakamkan di samping Raihan…  Pasti mereka berdua asyik bermain di surga dan sekarang ditemani oleh Tante Ruri atau Bunda nya Latifah…  Btw YangKung ikutan maen ga ya….

Ruri dan Alfie lulus ujian pertama dari Allah… Mereka berdua menerima kenyataan itu dengan besar hati….  Life goes on…. September 2006 pas ultah gerombolan September (Nadhira, Alfie, Ruri dan Ibu) mereka memberikan kabar gembira.. Ruri hamil lagi… Alhamdulillah…. Kami semua bahagia mendengarnya apalagi waktu itu aku baru keguguran ketiga kalinya… Ga ada rasa iri di hati karena Ruri hamil lagi, yang ada hanyalah rasa bahagia….

Tapi kebahagian itu lagi-lagi dibumbui dengan berita yang tidak mengenakkan, benjolan di payudara Ruri yang tadinya tumor jinak, berubah menjadi tumor ganas dan ukurannya juga bertambah dengan pesat. Aku inget banget waktu itu bulan Desember, pas akhir tahun itu, sambil tiduran di kamarnya, Ruri cerita kalau ada benjolan di payudaranya dan dia nyuruh aku pegang.. Masya Allah… benar itu benjolan sudah besar banget. Aku tanya apa yang bisa dilakukan… “Ga banyak mbak, karena aku lagi hamil, jadi ga bisa ada treatment apa2 karena takut mengganggu bayinya”.  Karena benjolan itu makin besar akhirnya dokter memutuskan untuk melakukan biopsi, yang artinya Ruri harus dibius. Kita semua khawatir dengan kandungannya. Dokter bilang faktor resiko ke bayinya tidak besar sepanjang operasinya tidak lebih dari 2 jam dan resiko terburuk adalah kandungannya kontraksi yang berarti bayinya harus dikeluarkan.  Akhirnya Alfie dan Ruri memutuskan untuk melakukan biopsi.  Biopsi berlangsung dengan lancar tapi anehnya luka bekas operasi nya ga kering-kering. Darahnya terus mengalir… Ternyata hasil biopsi tidak menggemberikan… Kanker yang diderita oleh Ruri sudah cukup ganas jadi harus dilakukan mamectomy atau pengangkatan payudara kanannya…

Operasi ini lebih menegangkan karena operasinya lebih lama dan kemungkinan kontraksi lebih besar. Selama hampir 4 jam operasi, mataku ga lepas2 dari pintu kamar operasi dan tangga. Ngeliatin tangga karena takut dokter kandungan naek dan bergabung ke kamar operasi yang berarti something wrong with the baby.. Alhamdulillah operasi berjalan dengan lancar. Tapi lagi-lagi ada bad news.. ternyata kankernya sudah menyebar ke getah bening… Waduuh sedih banget dengernya….

Tapi sekali lagi Alfie dan Ruri lulus ujian. Alhamdulillah kandungan Ruri sehat dan tanggal 20 April 2007, Zhafira Putri Aldri lahir dengan selamat. Bayi yang lucu dan Abit_dan_zhafira_resizesehat… Persalinan dengan Caesarian berjalan dengan lancar.. semua bahagia apalagi Abit.. Ada satu pertanyaan yang dilontarkan Abit yang bikin kita semua speechless. Dia nanya, “Bude, adikku yang sekarang ga meninggal kan? Dia sehat kan?”.. Alhamdulillah Abit, adiknya sehat…

Jam 7an aku dan mas Prass pulang dari RS, belum sampai 30 menit di perjalanan, tiba-tiba Alfie nelpon, minta kita balik ke RS karena Ruri kondisinya menurun dan minta kita membawa Abit pulang ke rumah Budenya… Langsung kita balik lagi ke RS ternyata memang kondisi Ruri drop karena terlalu pendarahan…  Ternyata pendarahan itu disebabkan karena rahim Ruri tidak bisa kontraksi lagi dan rahimnya ternyata mengeras karena kapur untuk melindungi bayi dari serangan kankernya. Sehingga satu satunya cara adalah dengan mengangkat rahimnya. Masya Allah, dalam waktu kurang dari 24 jam Ruri harus menjalani operasi lagi dan kali ini adalah pengangkatan rahim. Ya Allah… berat sekali cobaan yang Engkau berikan kepada Ruri. Sebagai seorang perempuan, rahim adalah sesuatu yang sangat berharga. Tapi Ruri harus kehilangan rahimnya hanya dua bulan setelah dia menjalani mammectomy… Setelah selesai operasi, Ruri harus masuk ICU dan Zhafira harus masuk ruang khusus juga karena kuning… Dan di ICU itu aku nangis karena baru sekali ini melihat Ruri mengeluh kesakitan…. Ruri, seorang yang kuat sekali mengeluh kesakitan, jadi pasti sakitnya luar biasa… Aku ga tahan lama2 di dalam ICU karena ga tahan liat Ruri kesakitan gitu.

Keputusan dari dokter, begitu selesai melahirkan Ruri harus langsung menjalani Berdua_resizekemoterapi untuk menghentikan kankernya. Tapi Ruri memilih memberikan ASI Ekslusif kepada Zhafira selama 6 bulan… Subhanallah, Allah memang Maha Besar, hanya dengan satu payudara, Ruri bisa menyusui anaknya dengan lancar dan Zhafira sepertinya tahu bahwa bundanya hanya bisa menyusui dengan satu payudara jadi dia selalu kenyang setelah ASI bundanya habis.

Setelah selesai memberikan ASI Ekslusif Ruri kembali menjalani terapi. Kemoterapi dimulai sekitar bulan November kalau tidak salah. Dan Ruri seperti biasa tidak pernah mengeluh. Rambutnya mulai rontok dan dia mulai botak. Tapi dia tetap tidak pernah mengeluh.

Sampai saatnya aku harus ke Canberra, perpisahan waktu itu sangat berat karena aku tidak pernah berencana akan pulang ke Indonesia untuk liburan. Kita berpelukan lama sekali di dekat meja makan… Rasanya berat berpisah dengan Ruri waktu itu… Belum ikhlas rasanya untuk tidak bertemu lagi dengan Ruri… Saat itu kondisi Ruri sudah tidak terlalu baik. Tapi dia masih ceria seperti biasa. Banyak teman temannya tidak menyadarai kalau Ruri sakit parah, bahkan saudara saudara juga banyak yang tidak tahu.

Ruri_fira_alfiePas kemaren April liburan ke Jakarta, kondisi Ruri makin lemah. Dia semakin kurus, tapi semangat hidupnya masih sangat tinggi. Tidak pernah mengeluh sama sekali.  Foto ini diambil waktu ulang tahun mas Langga dan mas Prass di rumah.

Ruri tidak hanya harus menjalani kemoterapi tetapi juga radio terapi karena tiba-tiba di dada kanannya tumbuh lagi benjolan yang besar dan keras. Tapi proses radioterapi juga tidak mulus karena HB Ruri sempat turun sebagai efek kemoterapi dan harus ditranfusi terlebih dahulu. Dan hebatnya Ruri, kadang-kadang dia menjalani radioterapi sendirian karena Alfie harus tugas ke Balikpapan. Saat itu aku berharap aku ada di Jakarta jadi bisa nemenin Ruri berobat.

Pas liburan Juni kemaren aku makin trenyuh dan sedih lihat kondisi Ruri. Dia lebih lemah dan tidak se-ceria biasanya karena batuk terus-terusan. Karena kankernya memang sudah menyebar ke paru-paru. Sedih sekali kalau lihat Ruri batuk karena kita tidak bisa menolong apa-apa.

Sampai pada satu sore, pas aku lagi di Surabaya dengan mas Prass, Alfie tiba-tiba sms memberi tahu kalau Ruri harus dirawat di RS karena pada saat kemoterapi, tiba-tiba Ruri sesak nafas sekali dan kondisinya sangat kritis. Sedih sekali mendengar berita itu karena lagi-lagi aku tidak bisa nemenin Ruri dan Alfie. Kebayang gimana paniknya Alfie saat itu karena tiba-tiba Ruri seperti berhenti bernafas dan dia sendirian di RS. Dan saat itu mbak Kuki juga sedang di Bandung. Begitu sampai Jakarta hari Minggu sore, aku langsung ke RS MMC dan kondisi Ruri sudah lebih baik. Itu karena nasehat dari dokter ahli paru-paru, Dr. Handoko, yang memberi semangat ke Ruri untuk berjuang demi melihat anak-anaknya besar.  Dan semangat Ruri langsung naek lagi.

Selama di RS, Ruri tetap semangat, dia mau makan bahkan lahap sekali sampai aku yang sudah menunggu sisa makanan jatah rumah sakit cuma bisa bengong karena cuma dibagi kerupuk sama dia. Semua makanan disapu bersih olehnya. Dan hasilnya selama sekitar 17 hari di RS Ruri tambah segar dan tambah gemuk. Senang sekali melihatnya. Apalagi ketika dokter memberi tahu bahwa hasil rontgen terakhir menunjukkan paru-parunya sudah lebih bersih.

Somehow dokter ahli onkologi darah ngotot supaya Ruri menjalani CT Scan tapi pemeriksaan itu harus ditunda beberapa hari karena Ruri batuk terus dan untuk CT Scan harus tahan tidak bergerak sekitar 15 menit. Tapi akhirnya CT Scan bisa dilakukan dengan baik.  Namun hasil CT Scan benar-benar mengagetkan. Kebetulan pas aku yang menemani Ruri di RS dan ketika dokter mengeluarkan hasil CT Scan, aku melihat dua titik di gambar otaknya Ruri. Langsung teringat dengan hasil Scan Bapak dulu.. Aku langsung deg-degan. Dokter tidak memberi tahu di depan Ruri, tapi aku dipanggil keluar dan diajak bicara oleh dokter. Sedih banget mendengar penjelasan dokter bahwa kankernya sudah sampai ke otak. Ketika balik ke kamar Ruri langsung nanya, “Mbak apa kata dokter?” Aku ga sanggup jawab, aku cuma bilang, “Ga bilang apa2 Rur. Masih tunggu Prof yang biasa nanganin kamu pulang dulu, baru nanti dia yang baca hasilnya”.  Rasanya gimana banget harus berbohong ke Ruri. Aku waktu itu takut kalau berita ini akan membikin Ruri makin sedih dan depresi. Akhirnya aku sms Aflie dan ngasih tau hasilnya. Aku sarankan ke Alfie untuk tidak memberi tahu Ruri.

Tetapi akhirnya Alfie harus memberi tahu Ruri juga karena harus ada radioterapi untuk kanker otaknya. Dan ga mungkin Alfie ga cerita karena Ruri pasti bertanya untuk apa terapi itu. Dan diluar dugaan, Ruri menerima berita dengan tenang.  Hari Sabtu pas aku sedang di Kopeng dengan mas Prass, Alfie kirim sms mengabarkan bahwa Ruri sudah bisa pulang dari RS. Senang banget dengarnya.

Hari Rabu, 23 Juli, aku harus pulang ke Canberra.  Perpisahan kali ini dengan Ruri lebih ringan. Somehow aku lebih tenang berpisah dengan Ruri kali ini. Walaupun kita tetap berpelukan lama dan tangis-tangisan. Saat itu pesan aku ke Ruri adalah “Terus berjuang dan semangat ya Rur.. Aku nanti akan pulang lagi bulan Oktober”. Ruri memeluk aku erat sekali… seakan berat untuk dia melepaskan aku pergi… Mungkin Ruri juga sudah merasa bahwa kita tidak akan bertemu lagi…. Setelah aku bisikkan kata-kata itu, aku cium kedua pipinya sambil berkata “Aku sayang kamu Rur.. terus berjuang ya…..”.

Saat itu Ruri sedang siap2 untuk ke RSCM untuk menjalani radio terapi. Dia sudah pakai kursi roda karena sudah lemas. Dan Fira ternyata punya tempat favorit di kursi roda Ruri itu… Tempat favoritnya adalah di dekat kaki bundanya…  Ruri masih tersenyum manis waktu kufoto…  Akhirnya mereka masuk mobil dan pergi ke RSCM… Aneh rasanya melambaikan tangan ke Ruri saat itu. Begitu sampai di Canberra aku langsung sms Alfie dan memberi semangat ke dia.

Senin pagi, 28 Juli jam 3, sms berbunyi, ternyata Alfie mengabarkan bahwa malam itu Ruri dibawa ke RS naek ambulance karena persediaan oksigen di rumah sudah menipis dan Alfie tidak mau ambil resiko kalo tiba-tiba Ruri sesak nafas. Dan dia juga berpesan agar aku tidak usah mikirin Ruri konsentrasi aja ke pelajaran.

Paginya aku sms mbak Kuki, dan ternyata mbak Kuki dipanggil sama Alfie ke RS.. Wah ada apa nih. Tapi mbak Kuki juga belum tau keadaan sebenarnya. Ternyata hari Senin itu Ruri tiba-tiba dis-orientasi. Dia seperti ga kenal sama siapa-siapa dan agak siang tiba-tiba Ruri kejang. Dokter menyatakan bahwa kondisi Ruri sudah terminal dan jika kejang lagi Ruri akan langsung dibawa ke ICU. Alfie mengirim sms minta dimaafkan semua kesalahan Ruri… Duuuh.. sedih banget dengarnya, tapi aku berdoa meminta yang terbaik kepada Allah. Sekitar jam 4 sore Alfie menelpon, meminta agar aku mengikhlaskan Ruri dan memaafkan semua kesalahnnya. Di telpon aku dan Alfie tangis-tangisan. Aku menitipkan Ruri ke Alfie, tolong Ruri dibimbing hingga saatnya… Tidak lama setelah Alfie menelpon, mbak Kuki sms bahwa Ruri kejang lagi dan sekarang dibawa ke ICU. Mbak Kuki juga minta aku mengikhlaskan Ruri agar penderitaan Ruri diakhiri.  Malam itu aku tidak bisa tidur. Berbagai perasaan bercampur aduk apalagi aku sendirian di sini.  Rasanya pengen terbang aja ke Jakarta dan menemani keluarga di sana.. Tapi ga mungkin aku pulang sekarang. Akhirnya aku cuma bisa shalat, baca Al Quran dan berdoa agar Allah memberikan yang terbaik untuk Ruri.

Besok paginya, jam 11 pagi ada sms lagi dari Alfie. Alhamdulliah Ruri sudah sadar dan bisa kembali ke kamar biasa. What a miracle.. Ruri seperti normal kembali dan hari Jumatnya dia sudah bisa menjalani radio terapi lagi.  Tapi pas malam Minggu mas Prass bilang kalo Ruri sesak nafas berat. Tapi ga ada berita lagi dari Jakarta, so aku pikir no news is good news.

Tapi tiba-tiba Selasa malam jam 8.30 pas aku lagi tidur (karena seharian aku keleyengan tanpa sebab) telpon bunyi dan tulisannya “No Caller ID” yang artinya telpon dari Jakarta. Deg jantung langsung copot. Ternyata Alfie yang menelpon dan bilang kalo kondisi Ruri sudah kritis banget. Dia sudah susah bernafas. Alfie minta aku benar-benar mengikhlaskan Ruri dan mohon didoakan dengan membaca Yassin. Langsung aku loncat dari tempat tidur, ambil air wudhu dan shalat Isya dilanjutkan dengan baca Al Quran, surat Ar Ro’du dan Yassin.  Jam 9.40 mbak Kuki telpon hanya bilang “Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun”….  Agak lama aku bengong di depan komputer yang kebetulan saat itu lagi error internetnya.  Beberapa detik kemudian baru aku tersadar dan berucap, “Ya Allah, ampuni semua kesalahan Ruri, terimalah semua amal ibadahnya dan berilah dia tempat terbaik di sisiMU. Aku yakin inilah yang terbaik untuk Ruri dan kami semua. Berilah kekuatan kepada kami semua untuk menerima ujian ini”.

Saat itu aku langsung mengirim sms ke beberapa sahabat di Canberra dan di Jakarta memberitahu kabar duka tersebut.  Langsung mereke membalas sms dan mendoakan Ruri. Dan Titik langsung mengusulkan untuk mengadakan Tahlilan di sini dan teman-teman yang lain menyetujui. Alhamdulillah sekali, aku punya teman-teman yang sangat baik di sini. Mereka tidak kenal Ruri secara langsung tapi mereka mau meluangkan waktu untuk Tahlilan buat Ruri.

Besoknya aku harus kuliah seperti biasa dan begitu buka email dan FS dan FB ternyata banyak sekali email dan ucapan bela sungkawa dan doa untuk Ruri. Bahkan di milis NCC (Natural Cooking Club) selama dua hari dikhususkan untuk memberikan ucapan bela sungkawa untuk Ruri padahal biasanya ucapan belasungkawa harus dilakukan japri. Kira-kira ada 350 emails di milis itu yang memberikan ucapan belasungkawa dan doa untuk Ruri. Belum lagi sms yang masuk ke aku. Ucapan di FS dan FB dan blog teman-teman Ruri…. Belum lagi aku dapat laporan dari Dewi sahabatku, bahwa banyak sekali yang mengantar ke pemakaman Rur.. mungkin lebih banyak daripada waktu Bapak dulu….

Rur…. you’re loved by so many people not only by your family…
Ilmu yang kamu ajarkan ke mereka, Insya Allah menjadi pahala yang terus mengalir tanpa putus-putusnya untuk dirimu….

Aku sebagai kakakmu sangat bangga punya adik seperti kamu Rur….
So many sweet memories we shared together for almost 38 years….
No one will replace your place in my heart…
Please hug Raihan and Latifah and Bapak for me….
I do miss you all….
I hope I can join all of you in the heaven…..

Ada pepatah yang mengatakan, it’s always the first time for everything… Itu juga pengalaman saya semester ini.  Seperti yang sudah ditulis oleh suami tercinta di blog nya : http://provokasi-prass.blogspot.com/2008/07/buat-apa-sedih.html  saya memang FAIL dalam salah satu mata kuliah utama program PhD saya, Microeconomics, the foundation of all Economic Theory… It’s the first time in my life that I failed the class.  Gimana rasanya????

Biasa-biasa aja tuh… hehehehe… Banyak orang yang kaget mendengar saya gagal di mata kuliah ini, karena waktu midterm nilai saya lebih tinggi dibandingkan teman-teman belajar yang lain. Dan mereka liat pas selesai final exam, wajah saya berseri-seri. Jadi mereka menganggap saya sukses menjawab semua pertanyaan di ujian tadi.  Saya ketawa aja mendengar komentar Yot, teman saya dari Thailand itu.  Saya bilang ke dia, "Of couse I was so happy after the exam, because it was the last exam last semester and we’ll have a good dinner afterwards".

Padahal kalau mereka tau perasaan saya waktu ujian. Begitu buka soal ujian dan baca ujiannya, langsung keringat dingin keluar semua. Karena dari 5 soal yang ditanya, ga ada satupun yang saya yakin jawabannya. Apalagi dua pertanyaan terakhir yang bobotnya masing-masing 20% dan 30%… Sama sekali ga bisa jawab, so there goes my 50% of the grade… Jadi dari perhitungan di atas kertas saja, saya sudah yakin kalau saya akan FAIL mata kuliah itu.  Tapi saat itu saya langsung berpikir.. kalau saya tidak bisa jawab pertanyaan ini, berarti  saya memang BELUM menguasai materi ini. So it’s OK for me to retake this class next year, and I will understand and master all the materials.  Dan begitu selese ujian dan ketemu sama dosennya, saya langsung ngomgong ke dia, "Jose.. see you next year… I’m sure I fail this course". Dosennya cuma bengong aja, dan dia bilang, "This exam is not that difficult"… Ya right… He’s the one who made the exam, of course he says it’s easy because he knows the answer already hehehehe….

Dan sebelum ujian, saya sudah bilang ke teman saya, kalau saya lebih suka saya FAIL daripada harus ambil Supplementary Exam (ujian perbaikan). Karena supplementary exam itu pas liburan yang berarti saya harus memperpendek liburan di Jakarta dan dalam waktu 2 minggu harus belajar Micro lagi. No way I shortened my holidays (and thanks God, it’s not happened so I can accompany my younger sister at the hospital) and no way I will mastered the materials in just two weeks. So I prefer to retake the course.

Walaupun dah tau kalo ga mungkin lulus, tapi pas harus liat hasil semester ini lewat internet, saya nervous juga, sampai-sampai salah ngasih tau password ke Galuh, sohib saya yang masih di Canberra saat itu.  Dan Galuh dengan berat hati memberitahu bahwa saya FAIL Micro… hehehe… padahal yang dikasih tau cuek-cuek aja.

Besoknya saya ke kantor, CSIS, dan dengan cueknya kasih tau ke teman-teman kalau saya FAIL Microeconomics. Saya ketawa tawa aja waktu ngomong gitu, sampai-sampai teman saya sempet sebel dan negur saya. "Mbak Uti gimana sih, kok gak lulus Micro malah ketawa-tawa. Sedih gitu kek, biar Tuhan kasian dan tahun depan dilulusin "… Saya bilang ke teman saya… "Lha emang kalo saya nangis, tuh nilai bisa berubah jadi PASS? Kalau iya saya mau deh nangis tujuh hari tujuh malam".  Saya bilang ke dia, saya malah senang ga lulus, karena dengan gitu saya bisa lebih menguasai materi yang diajarkan.  Dia cuma menjulurkan lidah dan bilang.. "Ah.. loe mbak.. banyak aja alasannya".

Hehehehe.. aneh ya orang-orang kok ga percaya kalau saya benar-benar ikhlas dan ridho untuk mengambil mata kuliah itu lagi. Ini akan menjadi ketiga kalinya saya ambil mata kuliah Microeconomics, dengan memakai buku Microeconomics karangan Mas-Colell, the best book in Microeconomics. Pertama waktu di UC Davis, 10 tahun lalu, kedua, semester satu kemaren dan ketiga, tahun depan. Karena saya tiga kali belajar Mas-Colell, nanti saya akan jadi Mbak-Colell….hehehehhee….

Although it’s always the first time for everything, but this is also the last time I fail my class. Once is enough……

Minggu lalu pas tutorial Industrial Organisation, salah satu mata kuliah yang aku ambil semester ini, yang mahasiswa nya campuran antara Undergraduate, Honour Student (undergraduate yang nilainya tinggi jadi bisa langsung terusin ke Graduate Program) dan Graduate Student, aku kaget melihat perilaku salah satu Undergraduate Student.

Kuliah dah dimulai, tiba-tiba ada satu anak undergraduate cowo yang masuk dengan gaya cowboy dan langsung ke depan ngomong sama dosennya. Dia minta supaya jam tutorial itu diganti karena bentrok dengan mata kuliah lain. Dosennya (cewe -orang Taiwan) bilang ga mungkin dia pindah jam karena mahasiswa yang ikut mata kuliah ini lebih dari 30 orang. Eh si mahasiwa lgs keluar dengan ngomel ngomel dengan bahasa yang sedikit kurang ajar. Kita sekelas sampai bingung liat kelakukannya. Eh, ga sampe setengah jam kemudian tuh mahasiswa masuk lagi dan duduk dengerin kuliah.. dan 10 menit kemudian bubar deh kelasnya  karena emang cuma satu jam kelasnya. Dan dia bengong gitu di bangkunya hehehehe.. rasain loe…

Dan hari ini di mata kuliah yang sama, lagi-lagi aku shock dengan kelakukan anak undergraduate. Dengan enaknya dia angkat kaki kirinya ke atas kursi di sebelahnya, terus kaki kanannya disilangkan di atas kaki kiri yang di atas kursi itu. Kebayangkan, tuh kaki kanan posisinya lebih tinggi daripada meja di depan dia. Sambil angkat kaki gitu dia sambil dengerin dosen ngomong. Padahal dia duduk di paling depan dan jarak kaki dia dengan dosennya ga sampai 2 meter. Buset dah…benar-benar shock aku liatnya. Kebayang kalo di Indonesia ada mahasiwa yang berani gitu… bisa ngamuk tuh dosen…

Setelah bisa menguasai diri (karena emang tadi benar-benar kaget) akhirnya aku sadar, bener kata pepatah, lain ladang lain belalang… ternyata di sini wajar aja kalau mahasiwa (terutama undergraduate) ga respek (dalam standar kita) ama dosennya… 


Ternyata setelah sepuluh tahun tinggal di Indonesia lagi, agak agak culture schoks nih liat kelakukan orang-orang Aussie yang rada-rada kasar gini….  Atau dua mahasiwa undergraduate itu memang dah keterlaluan ya?

Any comment???

Sebenarnya pengalaman ini bukan pengalaman di Canberra, tapi masih ada hubungannya dengan graduate life, karena terjadi waktu aku ambil Master di Davis,California 12 tahun yang lalu…

Meneruskan sekolah ke S2 sebenarnya tidak pernah terbayangkan waktu kecil karena dulu ga pernah ada bayangan bahwa setelah kuliah dan jadi sarjana masih ada lagi tingkatan yang lebih tinggi yaitu S2 dan S3.

Dengan semangat 45 dan kepercayaan diri yang sangat tinggi berangkatlah diriku ke UC Davis untuk ambil Master of Arts tahun 1996. Ternyata kuliah di luar negeri itu beda banget dengan kuliah di Indonesia. Bukan hanya bahasa nya yang beda (ya iyalah.. masak iya kuliah di Amrik, bahasanya Bahasa Indonesia hehehehe) tapi attitude mahasiswanya juga beda… Waktu kuliah di FEUI kayaknya santai banget… benar2 menikmati masa-masa jadi mahasiswa. Selesai kuliah bukannya langsung pulang tapi malah nongkrong di taman untuk maen kartu.  Dan alhamdulillah nilai2 juga masih lumayan bagus….

Nah, begitu sampe di Davis, ekspektasi nya juga sama seperti di UI, yaitu kuliah santai dan dapat nilai bagus… ternyata.. .SALAH BESAR…..  yang namanya graduate school itu ternyata benar2 beda… Udah belajar dari pagi ampe tengah malam (bahkan kadang-kadang sampai jam 2 pagi masih juga di kampus) ternyata hasilnya masih juga jelek dan for the first time in my life… aku ranking ke 23 dari 25 mahasiswa…. Bayangkan itu…Dari SD sampai SMA ga pernah absen ranking 1-3 eh begitu sampe di Davis jadi THE BOTTOM OF THE CLASS… Kalau dulu dipanggil oleh guru atau dosen karena mau dipuji atau dikasih kerjaan yang merupakan compliments, begitu sampai di Davis, dipanggil oleh dosen karena dia bingung kenapa ada mahasiswa kok bodoh banget… Bayangin aja di tengah2 midterm tiba-tiba pengen nangis karena ga bisa ngerjain differential padahal kalo ga bisa itu berarti semua soal ga bisa diselesaikan. Dan yang paling menyakitkan adalah komentar salah satu dosen yang bilang bahwa nilaiku jelek itu bukan karena aku ga ngerti tapi emang You’re stupid……Benar-benar deh tuh dosen ga ada belas kasihan sama sekali.

Walhasil, hampir setiap hari aku telpon Ibu ke Jakarta dan nangis2 karena nilai ujiannya jelek terus. Sampai-sampai Ibu bilang.. Udah kamu pulang aja ga usah nerusin ke PhD kalo kerjanya tiap hari nangis melulu, bosen Ibu denger kamu nangis nangis terus….Untungnya waktu di Davis aku punya sahabat yang senasib yaitu Kiyomi, kita berdua selalu membesarkan hati masing-masing dengan bilang bahwa, we’re not stupid, we ‘re just  unlucky because we came at the wrong year.  Benar juga sih karena pas tahunku itu dari 24 mahasiswa, 19 dari Asia (China, Jepang dan Korea) yang kalau belajar ga kira-kira dan sisanya mahasiwa Amerika. Dan dari 5 mahasiwa Amerika hanya 2 yang selesai PhD, yang lain hanya ambil Master aja. Dan untungnya lagi, supervisorku di sana selalu ngasih support ke aku dan meyakinkan bahwa aku bisa selese sampai PhD (sayang ga ada yg mau bayarin lagi, jadi terpaksa pulang deh dengan ABD - All but dissertation).

Tapi kejadian itu memberi pelajaran yang sangat berharga buatku.. karena ternyata walaupun selama ini aku merasa top of the class atau berada di langit, ternyata kalau disuruh ‘bertarung’ di arena yang lebih besar, masih ada langit di atas langit.  Masih ada orang-orang yang jauh lebih pintar dari aku.

Pengalaman ini juga membuat aku jadi lebih sabar kalau pas mengajari orang. Jujur aja, dulu sebelum kuliah di Davis, aku paling sebel kalau mengajar (entah di UI atau di universitas lain) dan ada mahasiwa yang ga ngerti2 walaupun dah diterangin berkali-kali. Waktu itu dalam hati aku bilang, ampun deh ini mahasiswa kok bodoh amat sih, masak kayak gini aja ga ngerti-ngerti…

Tapi begitu aku merasakan sendiri gimana rasanya jadi the bottom of the class, rasanya Allah menyentil telingaku dan bilang…. begini rasanya Ti kalau ga ngerti pelajarannya dan dosennya ga pengertian….Alhamdulillah, aku dikasih kesempatan untuk merasakan menjadi orang paling bodoh di kelas, jadi sekarang aku bisa lebih sabar kalo ngajarin orang.

Dan saat di Canberra ini, kejadian yang serupa terjadi lagi, walaupun saat ini belum jadi bottom of the class tapi tetap aja belum jadi the top of the class. Dalam lingkungan yang kecil mungkin aku masih yang paling bagus nilainya, tapi kalau dibandingin sama seluruh kelas.. hehehehe… masih berada di rata-rata sajah…

Ternyata memang benar… selalu masih ada langit di atas langit….

Indahnya Berbagi

Just want to share my experience which happened yesterday…

Hmmm… enaknya dari mana ya mulainya, karena  banyak kejadian yg berhubungan dengan kejadian kemaren… Ok, dimulai dari hari Jumat kemaren, setelah suntuk dua minggu belajar ga produktif hari Jumat kemaren setelah tutorial Macroeconomics yang pasti membikin migren kambuh aku menyempatkan jalan-jalan ke satu satunya mall di Canberra hehehehe yaitu Canberra Centre sama Galuh (one of my best friend here…).  Kita jalan ke Big W salah satu toko yg kalo di Jakarta sama dengan Matahari Dept. Store. 

Karena hari Sabtu dan Minggu bakal ada tutorial lagi, aku beli biscuits untuk teman2 seperjuangan (maksudnya yg sama-sama ikut tutorial).  Biscuitsnya ga yang mahal (maklum mahasiwa) cuma sekitar $3 dan $4. Pas aku beli itu, Galuh nanya, beli biscuits banyak2 buat apaan mbak, tambah gendut lho…. (ga sopan nih anak.. dah tau aku endut, masih juga diingetin). Aku jawab, ini bukan buat aku sendiri kok Luh, tapi buat tutorial besok… Dijawab sama dia… wah kapan ya gw tutorial bareng-bareng loe ya mbak, biar dapat makanan hehehehe…  Enak banget yang bareng2 loe mbak.. dimanjain….  Waah pasti pahala loe besar mbak memberi makanan pada orang yang membutuhkan… Aku cuma ketawa aja denger komentarnya Galuh, karena buat aku memberi sedikit kebahagiaan dengan menyediakan biscuits pada saat tutorial yang memusingkan itu sungguh membahagiakan. Senang aja liat tampang teman2 yang sedikit cerah setelah aku mengeluarkan biscuits atau coklat di tengah2 tutorial. Dan biasanya Andrew, teman yang dari Malaysia langsung tanpa basa basi nyerobot biscuits itu karena dia emang punya penyakit senang makan kalo lagi stress (that’s his justification of his ‘concave’ tummy)….

Pas hari Minggu aku masuk ke kantor ku untuk siap-siap tutorial, di atas meja dekat komputer ada satu bungkus coklat Lyndt dari teman sekamarku, Som (orang Thailand) dengan tulisan,… "Moekti, here’s something to share with your tutorial group. Enjoy your tutorial"….

Subhanallah…ternyata balasan dari Allah ga perlu nunggu sampai di akhirat ya, baru niat membagi makanan dengan teman-teman tutorial aja dah dibales dengan diberi coklat satu bungkus oleh teman yang lain…. Dan sesuatu dengan pesan di bungkus itu, coklatlnya aku bawa ke tutorial dong, dan as expected, muka teman2 sekelas (cuma 8 orang sih) langsung berbinar-binar dan dalam waktu 5 menit dah habis deh tuh coklat sebungkus (dan aku cuma kebagian satu coklat… hehehehe).

Pengalaman ini memberi pelajaran yang sangat berharga buat aku.. bahwa BERBAGI itu MEMANG INDAH…..  Jangan takut jatuh miskin dengan berbagi.. karena semakin banyak kita memberi akan semakin banyak pula kita diberi oleh yang lain…  Dan yang lebih menggetarkan hati itu adalah begitu cepatnya ‘balasan’ yang kita terima dari niat kita… 

Hmmm jadi mikir lagi, kalo kita niat jelek secepat itu pulakah balasan yang akan diterima????

Jangan Dipaksa

Dah lama ga nulis di blog neeeh.. maklum baru jadi mahasiswa lagi, jadi agak agak keder dengan segala readings, assignments, quizes, tests dan presentation… Ternyata setelah 10 tahun ga pernah belajar di sekolah… ga gampang untuk mengembalikan mood belajar….. 

Awal-awal datang ke Canberra, alhamdulillah dapat kesempatan ikutan IAP (Introductory Academic Program) semacam summer courses gitu. Ada 3 courses: Math, Micro and Econometrics.. Lumayan untuk refresh memory yg udah agak karatan ini. Dan yang paling menggembirakan adalah AKHIRNYA…. bisa juga menakluklan yg namanya Differential dan Integral…. Dua topik di Math yang sangat menakutkan waktu ambil Master dulu (sampe nangis di midterm gara2 ga bisa differential….)

Pas dah masuk kuliah beneran… naaah baru deh berasa ternyata UMUR tidak bisa ditipu hehehe.. Walaupun semangat masih semangat 20an.. tapi ternyata umur yg dah mendekati 40 ini emang tidak bisa dipaksa untuk belajar gila-gilaan seperti di Davis dulu…..
Dulu (12 tahun lalu) bisa tuh belajar dari jam 8 pagi ampe 12 malem, tujuh hari seminggu dengan nyaman…. eh sekarang…baru juga diajak belajar 5 jam, minta isitrahatnya 1 hari…. waaaah….

Dari 3 mata kuliah yg diambil semester ini, Macroeconomics yg paling menyebalkan, karena bahan yg dikasih itu Dynamic Programming yg belum pernah dipelajari sebelumnya. Dan yang lebih menyebalkan tuh dosen dah berasumsi bahwa semua mahasiswa yg ambil mata kuliah itu dah tau Dynamic Programming… Waaah kacau neh… Dan yang lebih kacau lagi, midterm nya itu hari Senin pas aku baru balik dari Indonesia hihihihihi…
Lha itu bukan kesalahan aku, karena dosennya yg ingkar janji. Dia bilang midterm nya sebelum liburan, ya aku dah pesan tiket dong.. eh ternyata sama dia diganti pas hari pertama masuk setelah libur…. Meep deh.. dah terlanjur beli tiket… hihihihi.

Dan ternyata emang nilai Macro itu yg paling jelek… (ya gimana engga… belajar nya sambil liburan di Jakarta hihihihi.. enakan jalan2 ke PIM dan Ambasador dong daripada belajar Dynamic Programming).

Nah, ceritanya begitu tau nilai2 midterm yang di bawah perkiraan (abis bikin target juga ga kira-kira,… dah tua masih juga maunya dapat High Distinction) ceritanya aku mau lebih teratur belajarnya. Dan setelah consult dengan consuler di sini, dia menyarakan bikin time table utk kegiatan sehari-hari….

Ceritanya mau jadi anak baik dong, ngikutin nasehat dia… Bikinlah time table yang detail sampai topik apa aja yg mau direview tiap hari..

TAPI…. ternyata I’m NOT that kind of person….Selama dua minggu ini, bukannya makin produktif yang ada makin males belajar… Aneh kan… Akhirnya tadi malem konsultasi dengan private consultant (i.e. Mas Prass), dia bilang… Ga usah bikin-bikin time table… Belajar itu harus di gelombang alfa.. harus relaks… Dengan bikin jadwal kamu merasa TERPAKSA belajar.. ini ga akan berhasil….

Hmmmm…  benar juga kata-kata dia (kapan sih dia ga benar… hehehe.. GR dah kalo baca)…  Emang sih, aku ga bisa dipaksa… makin dipaksa makin nolak nih otak… malah kalau akunya fun dan relaks, bisa lebih produktif….

So, starting today… ga pake jadwal2 deh… tergantung mood aja belajarnya… Dan itu berhasil.. karena dah kubuktikan waktu IAP dulu……

So friends…. stay tuned ya.. nanti aku laporan gimana hasil belajarnya…..
Wish me luck, OK……….

Older Posts »